Ibrahim Hamadtou si Mr. Impossible dari Mesir yang Curi Perhatian di Paralimpiade Tokyo 2020

Quadiliba Al-Farabi, Jurnalis · Selasa 07 September 2021 07:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 40 2467213 ibrahim-hamadtou-si-mr-impossible-dari-mesir-yang-curi-perhatian-di-paralimpiade-tokyo-2020-ARcMA7us3P.jpg Ibrahim Hamadtou curi perhatian di Paralimpiade Tokyo 2020 (Foto: Reuters)

TOKYO - Paralimpiade Tokyo 2020 telah usai, tetapi banyak cerita menarik dari penyelenggaraannya. Salah satunya datang dari atlet para-tenis meja Mesir, Ibrahim Hamadtou.

Ibrahim bahkan mendapatkan julukan Mr. Impossible. Sebab, Ibrahim, yang harus kehilangan kedua lengannya, hanya menggunakan mulut dan kaki untuk berlaga.

Ibrahim Hamdtou (Foto: Reuters)

Mulanya Ibrahim terlahir dengan fisik sempurna. Nahas, dia harus mengalami kecelakaan, yiatu tertabrak kereta api saat berusia 10 tahun.

Kedua lengannya diamputasi di rumah sakit. Saat itu, dia merasakan keterpurukan dan jarang sekali keluar rumahnya.

Perlahan-lahan, Ibrahim coba bangkit hingga memiliki olahraga favorit baru, yakni tenis meja. Saat itu, dia melihat sebuah meja di pusat pemuda setempat dan mengetahui informasi, bahwa terdapat atlet dengan kekurangan fisik.

Akhirnya, saat berusia 15 tahun, Ibrahim mendapatkan pukulan pertamanya. Akan tetapi, dia tidak menggunakan mulutnya pada saat itu.

Dia pertama kali mencoba meremas tongkatnya di bawah lengan, tetapi itu tidak berhasil. Setelah beberapa kali percobaan, Ibrahim memberi upaya terakhir dengan menggigit gagang bet-nya.

Dengan bet di mulutnya, memberi sedikit lekukan pada leher, pinggul, dan bahunya, dia memukul bola dengan sangat baik. Tentunya, dia menyesuaikan dengan gerakan kaki yang lincah.

BACA JUGA: Bincang dengan Atlet asal Jabar di Paralimpiade Tokyo 2020, Ridwan Kamil Bangga Campur Terharu

Untuk melakukan servis, dia menjepit bola dengan jari-jari kakinya, menjentikkannya ke udara dan memukulnya dengan bet. Dia hanya memakai satu sepatu saat bermain karena dia membutuhkan kaki kanannya untuk memegang bola

Gaya unik Ibrahim mengantarkannya ke Paralimpiade Rio 2016. Dia melewati berbagai jatuh-bangun kejuaraan lokal, regional, hingga internasional selama 28 tahun sebelumnya hingga mencapai ajang terbesar dunia ini.

Pada umur 48 tahun,  Ibrahim menjadi salah satu atlet papan atas di Paralimpiade Tokyo 2020. Bahkan, Federasi Tenis Meja Internasional pun memberikan apresiasi tinggi di akun sosial medianya berupa video permainan Ibrahim dengan reli yang kuat.

Ibrahim Hamdtou (Foto: Reuters)

“Saya merasa senang bermain tenis meja,” katanya dikutip dari laman The Australian, Selasa (7/9/2021).

"Ketika saya berdiri di meja, saya mungkin melupakan segalanya. Saya merasa bahwa saya sedang berbicara dengan bola dan dia mendengarkan apa yang saya katakan. Saya benar-benar merasa seperti raja ketika saya di meja,” ucap atlet para tenis meja satu-satunya yang mewakili benua Afrika ini.

"Kecacatan tidak ada di lengan atau kaki. Disabilitas adalah tidak bertahan dalam apapun yang ingin Anda lakukan,” pungkasnya.

“Salah satu kenangan terpenting yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketika salah satu teman saya mengatakan kepada saya untuk tetap berpegang pada sesuatu yang bisa saya lakukan. Pernyataan itu adalah percikan yang menghasilkan sesuatu di dalam diriku. Kemauan dan tekad. Saya ingin membuktikan kepadanya bahwa saya bisa berlatih olahraga,” ujarnya.

Ibrahim sayangnya gagal mendapatkan medali di Paralimpiade Tokyo 2020. Meski begitu, aksinya telah menginspirasi banyak orang di dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini