Paralimpiade Tokyo 2020, Atlet Afghanistan Sudah Lakoni Laga Debut

Antara, Jurnalis · Rabu 01 September 2021 06:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 43 2464212 paralimpiade-tokyo-2020-atlet-afghanistan-sudah-lakoni-laga-debut-B1JetsL150.jpg Hossain Rasouli tampil di Paralimpiade Tokyo 2020. (Foto: Reuters)

TOKYO – Atlet Afghanistan sudah mulai bertanding di pentas Paralimpiade Tokyo 2020. Ada Hossain Rasouli yang berlaga dalam pertandingan lompat jauh di Paralimpiade Tokyo 2020 pada Selasa 31 Agustus 2021.

Rasouli tampil setelah baru-baru ini dievakuasi dari negara asalnya, yang sekarang berada di bawah kendali Taliban. Dia menjadi atlet pertama yang mewakili Afghanistan untuk ambil bagian dalam Paralimpiade Tokyo 2020.

Hossain Rasouli

Ini merupakan suatu prestasi yang tampak mustahil ketika tim negara tersebut kesulitan melakukan perjalanan dengan aman ke Jepang untuk menjadi bagian dari acara olahraga terbesar di dunia bagi penyandang disabilitas. Dia sendiri baru tiba di Jepang di pertengahan Paralimpiade Tokyo 2020 yang dimulai sepekan lalu itu.

Rasouli (26), yang tiba di Tokyo tiga hari lalu, berlaga di nomor lompat jauh T47 putra dan menempati urutan terakhir dari 13 peserta yang ambil bagian dengan lompatan terbaik 4,46 meter.

Dia awalnya dijadwalkan untuk bertanding di nomor 100 meter T47 putra, tetapi datang terlambat. Ini adalah pertama kalinya dia berkompetisi dalam lompat jauh di pertandingan besar, menurut Komite Paralimpiade Internasional (IPC), dikutip dari Kyodo.

Rasouli kehilangan lengan kirinya ketika ranjau darat yang diletakkan Taliban meledak saat dia bertani pada 2013. Ketika dia diperkenalkan di layar lebar di Stadion Nasional sebelum pertandingan dimulai, dia mengangkat tangan kanannya dan tersenyum ke kamera, tetapi tidak berbicara kepada media usai bertanding.

Tim Paralimpiade Afghanistan, yang diwakili oleh Rasouli dan Zakia Khudadadi, tiba di Tokyo pada Sabtu malam dengan penerbangan dari Paris. Mereka telah berada di Ibu Kota Prancis itu selama sekira satu pekan setelah evakuasi mereka, yang dimungkinkan oleh upaya multinasional.

BACA JUGA: Dinesh Priyantha Herath: Pahlawan Perang Peraih Emas Pertama Sri Lanka di Paralimpiade Tokyo 2020

Sebagai bagian dari langkah-langkah untuk melindungi kesehatan mental dan kesejahteraan para atlet, IPC tidak mengizinkan media untuk berbicara dengan kedua atlet Afghanistan tersebut selama pertandingan, yang akan berlangsung hingga Minggu.

Juru bicara IPC, Craig Spence, mengatakan bahwa Rasouli "sangat bersemangat" untuk ambil bagian dalam Paralimpiade.

BACA JUGA: Klasemen Sementara Paralimpiade Tokyo 2020, Selasa 31 Agustus 2021: Indonesia Melorot ke Urutan 59

Sementara itu, Khudadadi dijadwalkan bertanding di kelas taekwondo K44-49kg putri pada Kamis 2 September 2021. Dia akan menjadi atlet perempuan Afghanistan pertama yang berkompetisi di Paralimpiade sejak 2004, menurut IPC.

Meski wakil tim Afghanistan tidak dapat hadir dalam upacara pembukaan, bendera negara tersebut tetap hadir di stadion dengan dibawa oleh seorang relawan sebagai tanda solidaritas. Beberapa atlet Paralimpiade yang memiliki hubungan dengan Afghanistan menyatakan keprihatinan dan harapan atas situasi di negara Asia Tengah itu.

Brad Snyder dari Amerika Serikat adalah salah satunya. Dia pernah bertugas di militer AS di Afghanistan.

"Saya pikir ini adalah situasi yang tragis dan menyedihkan sekarang, dan saya tahu apa yang diperjuangkan semua rekan saya adalah kebebasan dan demokrasi atas nama negara Afghanistan," kata Synder setelah meraih emas triathlon PTVI putra di Taman Laut Odaiba, Sabtu.

Hossain Rasouli

"Afghanistan telah mengambil langkah mundur tetapi harapan terbesar saya bahwa suatu hari Afghanistan akan mengalami tingkat kebebasan dan demokrasi yang lebih tinggi," kata Snyder, yang kehilangan penglihatannya selama penempatan keduanya ke Afghanistan pada 2010 sebagai anggota Angkatan Laut AS.

Pemerintah AS telah menyelesaikan penarikan pasukannya dari Afghanistan, mengakhiri keterlibatannya dalam dua dekade perang yang dipicu oleh invasi militer pimpinan AS setelah serangan teror 11 September 2001, yang melibatkan empat pesawat komersial.

Gedung Putih, Senin, mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terus memimpin koordinasi dengan negara-negara lain untuk memastikan perjalanan yang aman bagi setiap orang Amerika, Afghanistan, atau warga negara asing yang ingin meninggalkan Afghanistan.

Pejuang Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus menjelang rencana penarikan militer AS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini