Mijain Lopez Nunez, Kisah si Raja Gulat Mengukir Sejarah Besar di Tokyo 2020

Antara, Jurnalis · Rabu 04 Agustus 2021 02:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 43 2450448 mijain-lopez-nunez-kisah-si-raja-gulat-mengukir-sejarah-besar-di-tokyo-2020-BCMvfu6lQN.jpg Mijain Lopez Nunez meraih empat medali emas dari emapt beralaga di Olimpiade. (Foto/Reuters)

Inspirasi keluarga

Bagi si raksasa, keluarga adalah sumber motivasinya. Dia memang pernah bilang, “di tangan saya dan pelatihlah saya bisa mencapai tujuan saya”, tapi filosofi menangnya berakar dari keluarganya.

“Orang tua saya mengajarkan mentalitas itu kepada saya, sederhana sekali bahwa apa pun yang ingin kita capai dalam kehidupan hanya tergantung kepada segala hal yang kita usahakan,” kata dia.

Spirit itu tertempa di pegunungan yang mengelilingi Herradura di mana Lopez Nunez mengencangkan otot-ototnya sejak kecil dengan berlari mengejar hewan dan memanggul pikulan berisi buah dan umbi-umbian.

“Dia selalu ingin jadi el forzu (si kuat),” kata sang ibu.

Dia mengenal dunia olah raga dari dua kakaknya, Misael dan Michel, yang masing-masing menggeluti dayung dan tinju. Mereka berdua mendorong sang adik agar masuk ring tinju, tetapi Lopez Nunez menyadari gulat adalah panggilan hatinya.

“Begitu seorang pelatih gulat bernama Sergio (Soto) melihatnya, dia langsung tertarik,” kenang sang ibu.

Dia "anak manja, pemarah nan tampan (yang hobi berkelahi)", kata Michel yang meraih medali perunggu tinju Olimpiade Athena 2004, ketika Lopez Nunez finis urutan kelima dalam gulat Olimpiade itu.

Dia dikenal berkemauan kuat tapi periang. Dia berlatih dan tinggal di Havana bersama istri dan kedua anaknya.

Namun pada usia 13, karir dia hampir tamat manakala ayahnya memerintahkan dia berhenti gulat setelah patah tulang tibia dan fibula saat berkompetisi.

Begitu pulih, dia ikut lomba antar sekolah dan sukses meraih dua medali emas dan dua medali perak.

Empat tahun kemudian dia masuk timnas Kuba dalam usia 17 tahun. Sembilan tahun setelah itu dia merebut medali emas Olimpiade pertamanya di Beijing. Lalu di London 2012 dan Rio 2016 di mana dia menghadapi lawan yang sama, Rizaa Kayaalp si Turki.

Sebelum final Rio 2016, Si Raksasa dari Herradura meminta restu kepada ibundanya. “Saya bilang kepadanya ‘kalahkan dia seperti kamu mematahkan pensil’ dan itulah yang dia lakukan,” kenang Leonor Nunez.

Dan itu pula yang dia lakukan saat merebut medali emas Olimpiade keempatnya di Tokyo kemarin.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini