Positif Negatif Turnamen Biliar dengan Handicap

MNC Media, Jurnalis · Sabtu 19 Juni 2021 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 19 43 2427689 positif-negatif-turnamen-biliar-dengan-handicap-B9L5h7q816.jpg Ilustrasi. (Foto/MPI)

TURNAMEN biliar kerap kali dilaksanakan dengan menerapkan sistem handicap. Artinya turnamen mengelompokkan peserta sesuai handicap masing-masing, yang ditentukan berdasarkan tingkat kemahiran dan penilaian dengan kriteria yang ditetapkan oleh penyelenggara turnamen. Kriteria yang diutamakan adalah prestasi sebelumnya.

Sekretaris Jenderal PB Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Robby Suarly mengatakan, handicap di cabang olahraga biliar hampir sama dengan cabor lain, misalnya golf. Tujuan dari sistem handicap adalah agar terjadi kesetaraan kemampuan pada pemain yang saling bertemu dalam satu pertandingan.

“Pada suatu turnamen handicap, dengan adanya handicap maka seolah-olah seluruh peserta dibuat menjadi mempunyai kemampuan yang sama atau seimbang, sehingga setiap peserta mempunyai kesempatan atau peluang yang sama untuk dapat memenangkan pertandingan atau menjadi juara. Hal ini tentu dengan harapan dan konsep agar turnamen menjadi lebih sehingga jumlah perserta dapat menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan turnamen yang biasa (tanpa handicap)”. Kata Robby Suarly.

Baca juga: Rizky dari Jambi dan Bobby dari Bandung Juara Turnamen Biliar Open Handicap 2021 Bandung

Dua atlet nasional biliar, Fathrah Masum dan Naya Ticoalu menilai penerapan sistem handicap di dalam suatu turnamen memang memberikan keuntungan. Peserta bisa bertanding di kelompok yang setara sehingga semua memiliki peluang yang sama untuk memenangkan pertandingan.

Baca juga: Delapan Atlet Biliar Terjaring Seleksi untuk Pelatda Jangka Panjang PON XXI 2024

Tetapi yang menjadi masalah adalah tidak adanya standarisasi pemeringkatan handicap ini. Tak jarang timbul protes karena panitia turnmen yang mengatur sendiri kriteria acuan handicap, salah dalam menentukan handicap peserta.

“Kelemahannya tidak adanya indeks handicap resmi. Jadi tidak baku. Masih tergantung pada penyelenggara dan itu kadang berubah ubah.” Kata Fathrah Masum.

“Menurut saya pertandingan handicap kelemahannya ada di pihak panitia yang sulit menentukan handicap setiap peserta. Pertandingan dengan sistem handicap sering terjadi masalah karena kesalahan panitia dalam menentukan handicap setiap peserta.” Kata Naya Ticoalu.

Fahmi Atala seorang panitia yang baru saja menyelesaikan penyelengaraan turnamen handicap di Bandung mengatakan memang kesulitan bagi panitia lomba karena tidak ada standarisasi dalam penentuan handicap atlet biliar.

“Sistem seperti itu juga akan membuat sulit panitia kejuaraan. Pasalnya selalu akan ada kontroversi ketika seorang pebiliar ditentukan handicapnya. Ya sering hal itu terjadi. Tapi seandainya PB POBSI menentukan baku handicap pebiliar Indonesia maka sebenarnya tidak sulit seorang panitia untuk menentukan handicap itu. Makanya perlu PB POBSI merilis peringkat handicap itu.” Ujar Fahmi Atala.

Sekjen PB POBSI, Robby Suarly mengatakan, dalam Rakernas POBSI pernah disepakati dan diputuskan, bahwa POBSI tidak mencampuri urusan turnamen dengan kategori handicap. Handicap diserahkan kepada masing-masing panitia lokal.

“Dalam hal ini, apabila sudah waktunya POBSI dianggap perlu untuk turut mengatur perihal turnamen handicap ini maka hal tersebut dapat saja menjadi sebuah kesepakatan dan keputusan baru, salah satunya melalui jalur Rakernas POBSI.” Ujar Robby Suarly.

Berikut ini positif – negatif turnamen dengan sistem handicap menurut Sekjen PB POBSI Robby Suarly:

Positif:

• Dari sisi panitia, akan lebih banyak peserta berminat karena memberikan kesempatan bagi peserta level bawah untuk dapat menjadi lebih berani ikut bertanding, terutama dapat merasakan bertanding dengan pemain-pemain yang levelnya jauh di atasnya (pemain nasional/internasional).

• Dari sisi peserta, kesempatan menang terutama ketika pemain level bawah bertemu dengan pemain level atas, peluangnya menjadi sama/seimbang.

• Bagi pemain level atas, sebenarnya turnamen ini juga cukup bermanfaat dalam mengasah kemampuan latih tanding karena dengan adanya handicap maka semua peserta dibuat menjadi seimbang, sehingga setiap lawan tanding akan menjadi lawan yang tangguh walaupun sebenarnya levelnya masih di bawah.

Negatif :

• Dilihat dari sisi pembinaan, dengan adanya handicap membuat sebagian pemain merasa tidak perlu harus berlatih keras untuk maju atau naik level, karena setiap level mempunyai peluang yang sama untuk menang.

• Dalam setiap turnamen handicap, penentuan kriteria handicap yang tidak sama sehingga (hampir) di setiap turnamen handicap akan selalu ada pemain yang merasa handicapnya yang ditentukan oleh panitia setempat tidak sesuai. Hal ini termasuk kendala yang menjadi pekerjaan rumah POBSI yang harus dicarikan solusinya.

• Kemampuan rata-rata pemain pada masing-masing daerah adalah tidak sama dan hal ini pun belum terdata baik, sehingga ada faktor lain yang harus dipertimbangkan agar dapat dibuatkan standarisasi kriteria penentuan peringkat handicap setiap pemain untuk meminimalisir komplain dari peserta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini