COVID-19 Belum Melandai, Sekolah Jepang Mundur dari Program Penonton Olimpiade Tokyo 2020

Antara, Jurnalis · Minggu 13 Juni 2021 04:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 13 43 2424305 covid-19-belum-melandai-sekolah-jepang-mundur-dari-program-penonton-olimpiade-tokyo-2020-eGSQYLzv0i.jpg Logo Olimpiade (Foto: Reuters)

TOKYO – Sekolah-sekolah di Jepang akhirnya memutuskan mundur dari program penonton Olimpiade Tokyo 2020. Hal tersebut dilakukan karena kasus COVID-19 yang belum mengalami penurunan signfikan dalam beberapa hari terakhir..

Sejumlah pemerintah daerah yang dekat dengan Tokyo telah memilih keluar dari program tersebut karena kekhawatiran akan penyebaran virus corona, dan dengan penyelenggara yang belum memutuskan batasan penonton, banyak dewan pendidikan yang merasa tidak yakin jika siswa dapat menyaksikan jalannya pertandingan Olimpiade secara langsung.

Di Nakai, Prefektur Kanagawa, 320 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dijadwalkan untuk menonton pertandingan sepak bola dan bisbol di Yokohama, tetapi dewan pendidikan kota tersebut memutuskan untuk mundur pada bulan ini berdasarkan pandangan dari para kepala sekolah.

Olimpiade Tokyo 2020

"Kami sudah berencana untuk bepergian dengan kereta api, tetapi risiko infeksinya tinggi," kata kepala divisi pendidikan kota tersebut, Tetsuya Takahashi, dikutip dari Kyodo, Sabtu.

Program penonton tersebut menyediakan tiket Olimpiade, yang telah ditunda satu tahun karena pandemi, kepada sekolah-sekolah dan pemerintah daerah dengan harga diskon 2.020 yen (sekitar Rp262 ribu). Menurut panita penyelenggara, ada sekitar 1,28 juta permintaan pembelian pada Januari tahun lalu.

Baca Juga: Olimpiade Tokyo 2020, Rombongan Bulu Tangkis Indonesia Berangkat ke Jepang 8 Juli

Pada Piala Dunia Rugby 2019 di Jepang, anak-anak yang diundang menonton pertandingan menyanyikan lagu kebangsaan negara-negara peserta. Tetapi penyelenggara Olimpiade menganggap pembatalan program itu tidak dapat dihindari mengingat penundaan dan pandemi.

Kawagoe, Prefektur Saitama, yang akan menjadi tuan rumah kompetisi golf, awalnya meminta 5.558 tiket, terutama untuk pertandingan golf dan sepak bola yang akan diadakan di prefektur tersebut. Namun, permintaan tersebut turun menjadi sekitar 2.400 tiket pada Rabu (9/6), setelah sekolah-sekolah diminta untuk mengonfirmasi permintaan tiket mereka.

Seorang pejabat lokal mengatakan tampaknya ada setidaknya satu kota di prefektur tersebut yang telah membatalkan program sepenuhnya. Sementara itu, Dewan Pendidikan Yokohama mengonfirmasi kembali 323 sekolah yang sudah berencana menonton pertandingan dan memastikan jika mereka akan melanjutkan rencana tersebut tidak.

"Terlalu banyak kabar yang beredar, seperti pemberitaan media bahwa hasil tes PCR negatif diperlukan. Namun, kami ingin membiarkan (siswa) pergi jika mereka bisa," kata seorang pejabat dewan pendidikan.

Olimpiade Tokyo 2020

Di sisi lain, pejabat Prefektur Chiba berencana mengambil keputusan setelah pemerintah pusat mengumumkan batas penonton di venue dan tindakan lebih lanjut mengenai pengendalian infeksi. Acara nonton bareng dan pertemuan publik lainnya juga berada di bawah pengawasan ketat tim pengendalian penyebaran virus corona, yang menyebabkan banyak acara dibatalkan.

Terkait kelanjutan program penonton, Menteri Olimpiade Tamayo Marukawa mengatakan keputusan tersebut akan ditentukan setelah berkonsultasi dengan kementerian pendidikan dan panitia penyelenggara (Olimpiade), ketika batas penonton sudah diputuskan pada bulan Juni.

Baca Juga: Lima Lifter Indonesia Lolos ke Olimpiiade Tokyo 2020

Dengan sekitar 40 hari tersisa sebelum upacara pembukaan Olimpiade, Tokyo masih berada dalam status darurat COVID-19 sejak akhir April, yang sekaligus bertujuan menurunkan jumlah kasus. Pada musim panas 2019, ibukota Jepang itu rencananya akan menerima sekitar 900.000 siswa dari berbagai sekolah negeri dan swasta yang akan menyaksikan pertandingan Olimpiade.

"Kami memahami bahwa orang-orang khawatir dengan situasi pandemi. Kami siap untuk membatalkan program jika kami menilai keselamatan dan keamanan mereka tidak terjamin, dan kami akan mengatur agar pembatalan tersebut dapat dilakukan, bahkan pada hari itu juga," kata seorang pejabat pemerintah kota Tokyo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini