Davide Brivio, Otak di Balik Kejayaan Suzuki dan Yamaha

Hendry Kurniawan, Jurnalis · Sabtu 09 Januari 2021 11:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 09 38 2341522 davide-brivio-otak-di-balik-kejayaan-suzuki-dan-yamaha-d2eYPdAc7Q.jpg Davide Brivio (Foto: Suzuki Racing)

HAMAMATSU Davide Brivio telah resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer tim Suzuki. Hengkangnya Brivio ini tentu menjadi pukulan besar bagi Suzuki yang baru saja memulai masa kejayaannya.

Brivio sejatinya bukan seorang insinyur. Akan tetapi, kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk memimpin orang dan tahu persis apa yang diperlukan untuk memenangkan balapan. Itulah yang membuatnya menjadi sosok kunci.

Sekira satu setengah dekade lalu, Brivio mati-matian metakinkan Yamaha untuk merekrut Valentino Rossi dari Honda. Karena menurutnya, untuk bisa menjadi juara dunia dibutuhkan sosok pembalap yang kuat dan Valentino Rossi merupakan yang terbaik ketika itu.

Baca juga: Valentino Rossi Tak Lagi Bertaji di MotoGP

Valentino Rossi

Memanfaatkan hubungan yang tak harmonis antara Rossi dengan Honda, jadilah The Doctor hengkang ke Yamaha. Sebagaimana prediksi Brivio, Valentino Rossi langsung menjadi juara dunia di musim pertamanya membela Yamaha dan bahkan kini menjadi ikon dari konstruktor tersebut.

Sihir Brivio kemudian berlanjut ketika ia bergabung dengan Suzuki. Brivio bergabung pada 2013 ketika Suzuki sedang mengerjakan GSX-RR baru dengan mesin empat silinder in-line, yang menggantikan GSV-R yang gagal dengan mesin V4 untuk masuk kembali ke MotoGP.

Di Suzuki, Brivio pun mencoba membentuk pembalap kelas wahid guna memperebutkan gelar. Dia harus menunjukkan pandangan ke depan dan merekrut rookie untuk diasah dan dilatih sehingga pembalap tersebut cocok dengan tim dan GSX-RR. Hasilnya, Joan Mir menjadi kampiun MotoGP 2020.

“Anda harus membuat rencana jauh hari sebelumnya, dan itulah yang kami lakukan. Saya sudah memikirkan apa yang harus saya lakukan pada 2023 dan 2024,” ujar Brivio, dinukil dari Speedweek, Sabtu (9/1/2021).

“Beberapa tahun lalu kami tahu bahwa ada generasi pembalap - Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa, Valentino, dan Andrea Dovizioso - yang akan segera mengundurkan diri dan mungkin hanya Marc Márquez dan Maverick Vinales yang akan tersisa," paparnya.

Davide Brivio

“Siapa yang bisa menantang orang-orang ini? Kami ingin menemukan dua pembalap yang mampu - dan itulah ide di balik perekrutan Alex Rins dan Joan Mir. Di kepala saya, mereka adalah dua pembalap yang bisa bertarung di enam besar,” sambung Brivio.

“Itu berarti Anda bisa menjadi yang pertama, keempat, ketiga. Jadi Anda datang ke balapan dan memiliki kesempatan untuk naik podium. Dan kemudian Anda mulai mengambil peluang dan memenangkan balapan. Itulah keseluruhan ide di balik proyek ini," tandas pria yang kini menyeberang ke Formula One itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini