nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden IOC: Penuh Kekerasan, eSport Sulit Masuk Olimpiade

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 06 September 2018 09:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 06 43 1946720 presiden-ioc-penuh-kekerasan-esport-sulit-masuk-olimpiade-YvG6tWfXr8.jpg Cabor eSport dalam Asian Games 2018 (Foto: INASGOC)

JAKARTA - Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach mengatakan, eSport agak sulit untuk masuk sebagai salah satu cabang olahraga (cabor) di Olimpiade. Sebab, eSport mengandung unsur kekerasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Olimpiade. 

Bach mengatakan "game membunuh" yang mempromosikan kekerasan atau diskriminasi tidak dapat diterima dalam Olimpiade. 

"Jika ada eGames tentang membunuh seseorang, ini tidak dapat sejalan dengan nilai-nilai Olimpiade kami," katanya saat hadir di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang beberapa waktu lalu. 

(Baca juga: Kelayakan eSport Masuk Asian Games Dipertanyakan)

Untuk pertama kalinya, eSport dimasukkan sebagai acara eksibisi di Asian Games 2018. Selama penyelenggaraan pesta olahraga terakbar di Asia itu, pihak panitia menyatakan simpati kepada korban penembakan dalam turnamen video game di Florida.

eSport Asian Games 2018

Dua pemain game video profesional ditembak oleh pemain saingan. Kedua korban adalah pemain terkenal dalam kancah game Americal football Madden NFL.

Esports tidak lagi dianggap segmen khusus mengingat penonton global sekitar 320 juta orang. Bahkan pada 2020, eSport diperkirakan akan menghasilkan Rp19,2 triliun) dalam pendapatan global. Akan tetapi, perdebatan tentang apakah eSport bisa dianggap sebagai olahraga terus berlangsung.

Pada Juli lalu, IOC mengadakan forum eSport untuk membahas apakah game video dapat dipertandingkan di Olimpiade. Tapi untuk Bach, yang memenangkan medali emas Olimpiade di cabang olahraga anggar, eSport harus mengurangi kekerasan sebelum bisa dimasukkan.

Presiden IOC Thomas Bach bersama Presiden Jokowi

"Tentu saja setiap olahraga tempur punya asal-usul dalam pertarungan nyata di masyarakat. Tapi olahraga adalah ekspresi yang beradab tentang ini," imbuh pria asal Jerman itu. 

Zhang Dazhong mempromosikan eSport tetapi setuju bahwa kekerasan dalam video game adalah rintangan dalam mencapai Olimpiade.

"Itu harus sesuai dengan semangat dan nilai Olimpiade. Isinya tidak boleh kekerasan. Darah dalam video game adalah masalahnya. Garis yang menunjukkan kekerasan bisa kabur tetapi ketika ada darah hal itu mudah didefinisikan," katanya selama Asian Games.

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini