nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peluang Wakil Indonesia di Piala Thomas dan Uber 2018

Nanda Karlita, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018 11:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 11 40 1843361 peluang-wakil-indonesia-di-piala-thomas-dan-uber-2018-TLre55osNE.jpg Wakil Indonesia di Piala Thomas dan Uber 2016. (Foto: BadmintonIndonesia)

PIALA Thomas dan Uber akan kembali diperebutkan pada 2018 tepatnya pada 20-27 Mei. Digelaran terakhir yang berlangsung di China pada 2016, Indonesia kembali gagal menyabet trofi juara.

Tim Piala Thomas Indonesia sendiri hanya menempati runner-up setelah di partai puncak dikalahkan Denmark dengan skor 2-3. Saat itu, Hendra Setiawan dan kolega lolos dari fase grup dengan berstatus sebagai juara grup.

Tim Thomas Tanah Air tergabung di Grup B bersama Hong Kong, India, dan Thailand. Di fase grup, Ihsan Maulana dan kolega tampil sangat baik dengan menyapu bersih semua kemenangan.

Lalu di perempatfinal, Tim Thomas Indonesia berhadapan dengan Hong Kong yang notabenenya menjadi runner-up di grup yang sama dengan Indonesia. Tim Thomas Merah Putih kembali mengalahkan Hong Kong dengan skor 3-1 dan melaju ke semifinal.

(Tim Thomas Indonesia saat menjuarai Kualifikasi Zona Asia Piala Thomas 2016. Foto: BadmintonIndonesia)

Di babak empat besar, Jonatan Christie dan kawan-kawan bersiap berhadapan dengan Korea Selatan yang di luar dugaan mengalahkan China. Dengan skor kemenangan 3-1 atas Korea, Tim Thomas Indonesia melaju ke partai puncak.

Di final, Tim Thomas Indonesia gagal mengalahkan Denmark dengan pertarungan sengit dan takluk 2-3. Dua poin tersebut didapatkan Indonesia dari nomor ganda putra yakni Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang mengalahkan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding dengan dua game langsung.

Satu kemenangan lainnya diraih pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi atas Kim Astrup/Andres Skaarup Rasmussen dengan pertarungan dua game langsung. Melihat perjuangan tersebut, agaknya Tim Thomas Indonesia harus sedikit waspada untuk turun di ajang tersebut tahun ini.

Maklum saja, persaingan pebulu tangkis tunggal dan ganda putra dunia telah sangat sengit, apalagi di nomor tunggal putra. Agaknya di sektor ini masih harus diperbaiki mengenai performa dan capaian prestasinya.

Nama-nama pebulu tangkis tunggal putra Indonesia gagal bersaing dengan nama-nama beken seperti Lee Chong Wei (Malaysia), Viktor Axelsen (Denmark), bahkan dengan pebulu tangkis India, Srikanth Kidambi.

Sektor tunggal putra ini memang sebaiknya menjadi sorotan bagi Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI). Sebab poin terbanyak di pertandingan beregu Thomas akan disumbangkan dari nomor tunggal putra melalui tiga partai.

Sementara, Tim Thomas Indonesia masih memiliki kesempatan untuk bisa mendulang kejayaan di nomor ganda. Nama Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang menjadi ganda putra terbaik dunia dengan tujuh titel juara superseries di 2017 tentu akan menjadi andalan.

Selain itu, pasangan yang sempat bercerai di akhir 2016, Hendra/Ahsan, akan kembali berpasangan di tahun depan. Namun, belum dikonfirmasi oleh PBSI apakah keduanya akan turun di Piala Thomas 2018.

Di Piala Uber, Tim Indonesia juga berhasil menorehkan prestasi yang cukup baik. Maria Febe Kusumastuti dan kolega berhasil melaju hingga babak perempatfinal. Sayangnya mereka gagal memenangkan duel dengan Korea Selatan dengan skor telak 0-3.

Sebelum lolos ke perempatfinal, Tim Uber Indonesia harus menghadapi hadangan Thailand, Bulgaria, dan Hong Kong di Grup C. Sayangnya Indonesia gagal menyapu bersih semua kemenangan karena di partai terakhir saat berjumpa Thailand, Indonesia kalah dengan skor 2-3.

Hasil tersebut sepertinya menjadi catatan penting bagi PBSI jelang turun di Piala Uber 2018. Apalagi saat ini Thailand berhasil memenangi partai beregu bulu tangkis di SEA Games 2017. Tentu hal itu harus diwaspadai oleh para pebulu tangkis Indonesia.

Jika menilik prestasi perseorangan pebulu tangkis putri Indonesia di ajang superseries, wakil Tanah Air mengalami pemerosotan prestasi yang cukup signifikan. Sejak awal 2017, belum ada nama pebulu tangkis tunggal putri Indonesia yang berhasil memenangkan gelar di level tertinggi turnamen BWF itu.

Prestasi tertinggi tunggal putri Indonesia diraih oleh Gregoria Mariska Tunjung dengan keluar sebagai pemenang di Kejuaraan Dunia Junior. Namun di sektor ganda putri, Indonesia patut berbangga.

Sebab ada nama Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang sukses mengarungi turnamen superseries di 2017 mesi baru dipasangkan pada Mei 2017. Dengan sejumlah kekurangan tersebut, PBSI perlu bertindak agar bisa kembali merengkuh gelar di Piala Thomas dan Uber yang terakhir didapatkan Indonesia pada 2002 dan 1996.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini