Sulitnya Mencari Li Na Baru

Randy Wirayudha, Jurnalis · Minggu 02 Oktober 2016 20:27 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 02 40 1504285 sulitnya-mencari-li-na-baru-AoovT28OMv.jpg Selebrasi Li Na saat memenangkan French Open 2011 (Foto: Reuters)

BEIJING – Saat masih bermain, Li Na jadi “dewi” pujaan para penggila tenis di negaranya – China. Tapi sejak pensiun 2014 lalu, Negeri Tirai Bambu kesulitan mencari “titisan” Li Na untuk tetap mengharumkan nama China di dunia tenis internasional.

Li Na jadi kebanggaan negaranya setelah sukses memenangi dua Grand Slam. Titel bergengsi kompetisi tenis pertamanya itu diraih pada gelaran French Open 2011 dan yang kedua di Australian Open 2014.

Sayangnya beberapa bulan setelah memenangi Australian Open, ibu satu anak ini memilih pensiun, tepatnya pada 19 September di tahun yang sama. Jelas China kehilangan, bak Indonesia yang merasa kehilangan sejak Yayuk Basuki gantung raket.

Meski China masih punya beberapa petenis yang acap ikut turnamen internasional macam Zhang Shuai, Peng Shuai, Wang Qiang, Zheng Saisai dan Duan Yingying, tapi tetap saja deretan nama itu merasa kesulitan jadi “Li Na-Li Na” baru, untuk jadi kebanggaan Negeri Panda.

“Saya tidak bilang bahwa mustahil untuk membuat kejutan, tapi selalu ada perbedaan besar antara Li (Na) dengan kami. Jika Serena Williams pensiun, saya pikir juga susah mencari Serena baru,” tutur Peng Shuai, disitat Strait Times, Minggu (2/10/2016).

Senada dengan rekannya itu, Zhang Shuai juga merasa sulit jadi idola baru negaranya menggantikan Li Na. Sedikitnya, para petenis China harus bisa menyamai Li Na, yakni menangi Grand Slam – gelar dari segala gelar di dunia tenis.

“Saya pribadi harus realistis. Untuk memenangi Grand Slam, Anda harus menangi tujuh pertandingan. Tapi jika pada satu pertandingan saja saya kesulitan, bagaimana bisa saya bicara tentang jadi juara?,” timpal Zhang Shuai.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini