nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Jokowi Belum Serius Kerja Membangun Olahraga

Daniel Setiawan, Jurnalis · Selasa 20 Oktober 2015 17:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 10 20 43 1234997 pemerintah-jokowi-belum-serius-kerja-membangun-olahraga-qsTkUlWZnn.jpg Ganda Putri Indonesia (Foto: AFP/Wang Zhao)

SATU tahun lalu Indonesia memiliki sosok pemimpin baru yakni Presiden Joko Widodo. Berbagai harapan ditujukan kepada pria yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tersebut, salah satu di antaranya adalah memajukan prestasi olahraga Indonesia.

Satu tahun berlalu, apakah olahraga Indonesia sudah berprestasi di tingkat Asia Tenggara, Asia, atau bahkan dunia? Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah melihat prestasi beberapa cabang olahraga yang paling digandrungi di Tanah Air dan pencapaian di beberapa ajang yang diikuti oleh kontingen Merah Putih.

Mari kita mulai dari pesta olahraga di tingkat ASEAN yakni SEA Games 2015 di Singapura. Indonesia terkenal memiliki rekam jejak yang mentereng di ajang dua tahunan tersebut. Pada event tahun ini, kontingen Indonesia berada di peringkat lima klasemen akhir dengan perolehan 47 emas, 61 perak, 74 perunggu.

Pencapaian tersebut patut diapresiasi, tapi faktanya posisi kelima di gelaran kali ini merupakan yang terburuk setelah edisi 2005. Apalagi di dua edisi sebelumnya, Indonesia mencatatkan hasil yang cukup baik.

Pada 2011, Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah keluar sebagai juara umum dengan perolehan 182 medali emas, 151 perak, dan 143 perunggu. Dua tahun berselang di Myanmar, Indonesia berada di posisi keempat dengan 65 emas, 65 perak, dan 86 perunggu.

Bergeser ke cabang olahraga unggulan Indonesia yakni bulutangkis. Pada event All England Superseries 2015, Indonesia berhasil menembus babak puncak hanya pada nomor ganda campuran yang diwakili oleh Lilyana Natsir/Tontowi Ahmad. Sayangnya, juara bertahan All England tersebut gagal menumbangkan pasangan China di laga final.

Jika nihil gelar di All England, beda ceritanya ketika tampil pada gelaran BWF World Superseries 2015 di Jakarta, 10 Agustus 2015. Dari lima nomor yang dipertandingkan, Indonesia meraih satu gelar juara melalui pasangan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan.

Terbaru, Indonesia kembali pulang dengan tangan hampa ketika tampil di Denmark Open 2015. Namun di sisi lain, pada perhelatan Thailand Open Grand Prix 2015, ganda putra Ade Yusuf/Wahyu Nayaka menjadi yang terbaik setelah menumbangkan pasangan Malaysia.

Tertatihnya Indonesia di dunia bulutangkis memang menjadi sorotan dalam beberapa tahun belakangan. Sayangnya hingga kini belum ada perubahan signifikan yang terjadi. Sama halnya dengan bulutangkis, sepakbola Indonesia juga tak kunjung membaik. Bahkan untuk olahraga paling digandrungi di tanah air ini, kondisinya lebih parah yaitu Indonesia dijatuhkan sanksi oleh otoritas tertinggi sepakbola dunia, FIFA.

Tak hanya bulutangkis ataupun sepakbola, cabang lainnya jika memang pemerintah memiliki niat untuk mengelola secara profesional bukan tak mungkin akan muncul bibit-bibit unggul di masa depan.

Seperti halnya sepakbola, bukannya menciptakan sebuah sistem yang mampu menjadi jalan untuk memunculkan pesepakbola muda unggulan, Indonesia malah meributkan hal yang sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya. Belum lagi adanya dugaan keterlibatan bandar judi yang menentukan hasil pertandingan.

Bagaikan anak sekolah yang nilainya di satu semester dievaluasi melalui pembagian rapor, tinta merah jelas akan menghiasi rapor Indonesia di dunia olahraga. Banyak yang harus dibenahi oleh pemerintah, apalagi 2015 sudah menjelang pergantian tahun. Jika tak diperhatikan dan dijalankan secara serius, kering prestasi tentu akan sering dialami Indonesia di masa depan.

(fap)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini