nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengurus Olahraga Harus Orang yang Berani

Sabtu 05 September 2015 12:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 09 05 43 1208811 pengurus-olahraga-harus-orang-yang-berani-AheK3uT2iv.jpg Indonesia membutuhkan pengurus olahraga yang berani dan kreatif. (Foto ilustrasi: Antara/Wahyu Putro)

PALEMBANG - Calon Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas atau Satlak Prima, Ahmad Sucipto mengatakan persoalan olahraga di Indonesia dapat diselesaikan oleh pemimpin berani yang mau menggunakan cara tidak biasa.

"Pembenahan itu harus berdampak dan bagaimana berdampak harus dengan cara inkonvensional atau 'out of the box'. Jika tidak, Indonesia tertinggal jauh dan tidak sanggup menggejar negara lain. Artinya dibutuhkan pemimpin di lingkungan pemerintah yang berani," kata Ahmad Sucipto dalam diskusi terbuka bertema "Ke Mana Visi Pembinaan Olahraga" di Palembang, mengutip pemberitaan Antara, Sabtu (5/9/2015).

Dalam diskusi yang turut dihadiri Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, mantan atlet nasional, Richard Sam Bera dan Rexy Mainaky serta Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora, Djoko Pekik Irianto, Sucipto mengatakan upaya luar biasa sempat dilakukan negara pada era Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault dan sukses mendongkrak prestasi atlet di arena SEA Games.

Ketika itu, Menpora menilai harus ada perubahan pada sistem karena sudah terbukti gagal dengan ditandai capaian pada SEA Games 2005 yakni hanya menempati peringkat ke-5 dari 11 negara, dan meraih dua medali emas Asian Games.

"Saat itu, dibuatlah Program Atlet Andalan (PAL) oleh Kemenpora dengan memberikan intervensi dari sisi manajemen dan tata kelembagaan dalam membina atlet berprestasi," ujarnya.

Program itu sangat fokus memajukan atlet mulai dari menjadikan pelatih sebagai lini terdepan, menggunakan sport science, menjaga kestabilan anggaran dan membuat standar atlet nasional.

"Tidak mudah menjalankan program ini karena banyak hal di lapangan yang harus diterobos atau harus berani keluar dari kebiasaan. Termasuk harus ribut dengan KONI karena rebutan pembinaan atlet berprestasi," imbuhnya.

Selain itu, yang membuat tidak mudah adalah masalah klasik terkait anggaran karena mutlak membutuhkan pengambil kebijakan yang berani meretas sistem anggaran, dan mengajak pelatih untuk mengunakan sport science dalam menganalisis kemampuan atlet.

"Keberanian menteri dalam kebijakan anggaran seharusnya tidak ada lagi kejadian keterlambatan uang saku dan peralatan latihan serta bertanding," kata Ketua Umum Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia ini.

(fap)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini