Prestasi Olahraga Indonesia Harus Berlari!

Putri Utami, Jurnalis · Sabtu 22 Agustus 2015 12:42 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 22 43 1200649 prestasi-olahraga-indonesia-harus-berlari-SfeRMc7LNZ.jpg Hary Tanoesoedibjo (foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA - Tolak ukur kemajuan sebuah negara tidak hanya dari faktor ekonomi saja. Ada berbagai faktor lainnya, salah satunya prestasi olahraga.

Hal tersebut menjadi perhatian Partai Perindo. Oleh sebab itu, mulai tahun ini Perindo menyelenggarakan Liga Futsal Perindo U-18. Peserta gelaran ini berasal dari 34 provinsi se-Indonesia.

“Liga ini mencari bibit-bibit baru futsal di Indonesia,” kata Hary Tanoesoedibjo (HT), Ketua Umum Partai Perindo saat bertemu dengan 34 tim peserta Liga Futsal Perindo U-18 2015, Jumat 21 Agustus 2015.

HT mengungkapkan, saat ini prestasi olahraga Indonesia sedang menurun, khususnya di bidang sepakbola yang peringkatnya melorot. Seperti diketahui, per Juli lalu peringkat Indonesia anjlok sembilan tingkat. Dari sebelumnya peringkat 155 menjadi peringkat 164. Penurunan peringkat tersebut disebabkan sanksi FIFA. Indonesia tidak mendapat nilai karena mendapat larangan tampil di level internasional.

“Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan agar prestasi olahraga nasional bisa berlari,” ujar HT.

Dia mengatakan, untuk memajukan prestasi olahraga, dibutuhkan kompetisi-kompetisi untuk memacu para atlet terus meningkatkan performannya. Dalam acara tersebut, HT berpesan kepada seluruh peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas dan ikut memajukan olahraga futsal di Indonesia.

Pertemuan tersebut berlangsung penuh keakraban. Ratusan peserta yang duduk lesehan tersebut aktif berdialog dengan HT. Beberapa kali candaan pun terjadi. Salah satunya ketika HT berbagi rahasia untuk mencapai sukses, diantaranya adalah disiplin dan kerja keras.

“Saya mulai kerja pukul 06.00 pagi dan baru tidur lagi pukul 03.00 pagi,” tutur HT menceritakan perjuangannya mengawali karir.

Lalu seorang peserta berkomentar, “Wah gak turu pak (wah tidak tidur Pak),” kata peserta tersebut. Mendengar hal itu HT pun menjawabnya, “Iyo ga turu, turu sedelok tok (Iya tidak tidur, tidur cuma sebentar). Sontak peserta yang hadir tertawa mendengar dialog khas Jawa Timur tersebut.

Tidak itu saja, HT juga bercerita masa remajanya, saat usianya sama dengan para peserta yang hadir. “Dulu saya waktu SMA bandel. Saya rajin olahraga, tapi juga suka berantem. Kelas tiga SMA saya drop out, di sini ada yang drop out tidak?,” tanya HT.

Tidak ada peserta yang mengacungkan tangan. Namun, mendengar hal tersebut mereka tertawa. HT melanjutkan, dia kemudian insyaf dan berubah 180 derajat. Dia menjadi sangat disiplin hingga akhirnya meraih cum laude dan berhasil seperti sekarang ini.

“Masa lalu seseorang dan bagaimana latar belakangnya tidak relevan untuk menilai bagaimana masa depannya kelak,” kata HT.

Dia menuturkan bagaimana dia mengawali usahanya dari nol. Dari satu orang karyawan yaitu dirinya sendiri, menjadi lebih dari 30.000 karyawan seperti saat ini.

“Umur 27 tahun saya sudah beli hotel, umur 29 tahun saya sudah beli bank,” ungkap HT. Para peserta pun langsung bertepuk tangan.

Tak hanya interaktif, para peserta yang hadir pun ditantang olehnya untuk maju ke depan.

“Ayo siapa yang paling kuat fisiknya di sini coba maju ke depan,” kata HT. Kemudian empat peserta berbadan gempal maju ke depan dengan percaya diri. Sesampainya di depan, mereka pun ditantang untuk adu push-up dengan HT.

Suasana auditorium di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur langsung gaduh. Ratusan pelajar SMA dari 34 provinsi se-Indonesia berebut maju ke atas panggung ingin melihat dari dekat.

Hitungan pun dimulai, satu, dua, tiga, kemudian di hitungan kelima sudah ada yang gugur. Kemudian peserta kedua gugur dihitungan kelima belas. Ada yang bertahan, namun akhirnya gugur juga di hitungan sekitar 30 kali. Namun, HT terus melanjutkan push-up hingga sekitar 80 kali. Melihat kanan kirinya sudah menyerah HT pun lantas berdiri.

Semua yang hadir di auditorium tersebut bertepuk tangan. “Umurku wis seket lho (Umur saya sudah 50 tahun lho,” kata HT.

Siswa SMA Muhammadiyah 7, Jogjakarta, Ferianto Galih Wicaksono (17), yang ikut kedepan tersebut awalnya tampak semangat dan yakin bisa mengalahkan HT. Teman-teman seperjuangannya dari Kota Gudeg menyemangatinya. Berbekal kamera ponsel, mereka bersiap mengabadikan aksi Ferianto.

“Iya, malu saya cuma lima kali,” ungkap Ferianto tersipu . Maklum, usianya dan HT terpaut 33 tahun. Tetapi secara fisik HT jauh lebih kuat dari pria yang berbalut kaos biru tersebut.

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq, Ketua Bidang Organisasi Partai Perindo Syafril Nasution, Ketua Bidang Politik Arya Sinulingga, Ketua Bidang Sosial dan Ekonomi Wishnu Handoyono, Wasekjen Donny Ferdiansyah, Wasekjen Ajun Damayanti, dan ketua-ketua DPW Partai Perindo.

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini