Sosok di Balik Sukses Greysia/Nitya

Randy Wirayudha, Jurnalis · Jum'at 03 Oktober 2014 12:06 WIB
https: img.okezone.com content 2014 10 03 40 1047714 zZtR1IKFj8.jpg Eng Hian di tengah-tengah dua anak didiknya yang sukses merebut emas pertama Indonesia di Asian Games 2014 (Foto: Badmintonindonesia.org)

JAKARTA – Sukses atlet mereguk prestasi, tak pernah lepas dari peran besar pelatih di belakang layar. Untuk capaian emas Asian Games XVII yang dipetik ganda putri, ada sosok Eng Hian yang tak kenal lelah mendampingi Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di tepi lapangan.

Kebahagiaan yang sama tentu juga dirasakan pelatih yang akrab disapa Koh Didi ini, ketika Greysia/Nitya berdiri tegak di podium utama, sembari menatap berkibarnya Merah-Putih dan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang.

“Senang sekali, sudah pasti itu. Kalau dibilang sudah menyangka juga tidak, dibilang punya feeling juara juga tidak, karena saya tidak berpikir jauh, tapi fokus satu demi satu pertandingan saja,” ujar Eng Hian, seperti dikutip situs resmi PBSI, Jumat (3/10/2014).

Mantan pebulutangkis ganda yang sempat berpasangan dengan Flandy Limpele ini juga mengungkapkan salah satu resep sukses Greysia/Nitya. Selain kepercayaan diri, Eng Hian ingin kedua anak didiknya itu jangan sampai tinggi hati, apalagi cepat puas.

“Menurut saya yang paling utama adalah rasa percaya diri. Selain itu, Greysia/Nitya sangat-sangat disiplin dalam menjalankan strategi, artinya mereka bisa mempertahankan fokus di satu demi satu poin, tanpa memikirkan “Gue pasti menang, nih”. Saya lihat dua hal ini yang berperan penting dalam kemenangan mereka, lanjutnya.

“Mendapat hasil bagus dalam waktu yang cepat pastinya menjadi keinginan semua orang. Yang susah itu mempertahankan. Saya akan mencoba untuk membantu Greysia/Nitya untuk mempertahankan peak performance mereka, serta menanamkan pola pikir supaya mereka tidak cepat puas,” sambung Eng Hian lagi.

Sejak ditugaskan menangani ganda putri, Eng Hian juga melakukan sejumlah perombakan, salah satu yang vital adalah program latihan, di mana Eng Hian menjadwalkan latihan ganda putri, digenjot lebih keras di saat akhir pekan.

“Saya mulai melatih mereka bulan Maret 2014, sesudah turnamen All England, saat itu kami duduk bersama dan berdiskusi soal program latihan. Mengenai program di hari Sabtu ini memang benar, karena di hari itu lah peak penampilan pemain paling tinggi, kalau di turnamen kan hari Sabtu itu berat. Kalau biasanya Sabtu agak ringan, kali ini dibuat berat seperti pertandingan,” tambahnya.

“Awalnya saya menangani ganda putri potensi lewat proses negosiasi yang cukup lama dengan Rexy Mainaky (Kabidbinpres PBSI). Kala itu saya bilang kalau saya butuh waktu yang lebih panjang untuk membangkitkan sektor ini. Saya bilang saya perlu waktu enam tahun untuk itu, karena saya mau merombak total,” ungkap Eng Hian.

“Mulai dari keseharian para atlet. Karena saya lihat ganda putri kita seperti 'empty', teriakannya saja yang ramai, tetapi tidak ada 'soul' nya. Namun sekarang saya cukup optimis dengan ganda putri kita,” tutupnya.

(FAP)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini