Tim Uber Cup Diminta Introspeksi Diri

Reza Jailani, Jurnalis · Jum'at 23 Mei 2014 19:17 WIB
https: img.okezone.com content 2014 05 23 40 989323 ek8izOUzsh.jpg Bellaetrix Manuputty (Foto: BadmintonIndonesia.org)

NEW DELHI – Tersingkirnya Tim Uber Cup Indonesia pada babak perempatfinal dari tim tuan rumah dengan skor 3-0 Kamis (22/5) petang memberikan pelajaran yang berharga kepada para pemain. Sang manajer tim, Imelda Wiguna bahkan meminta tim melakukan introspeksi diri atas hasil negatif ini.

Melesetnya target yang dicanangkan kepada tim Uber Cup tahun ini yaitu semifinal seakan memberikan informasi yang berharga. Banyak aspek yang harus dievaluasi dan diperbaiki ke depannya.

Dalam sebuah wawancara dengan manajer tim Uber Cup Indonesia, Imelda kepada BadmintonIndonesia.org menjelaskan hasil pertandingan dan apa yang harus dilakukan usai pergelaran Uber Cup 2014.

Berikut petikan wawancaranya;

Bagaimana komentar Anda mengenai hasil pertandingan tim Uber?

 

Tentunya sedih dan kecewa, saking sedihnya saya sampai tidak bisa tidur semalam. Sebetulnya anak-anak sudah tampil luar biasa, tetapi inilah hasilnya.

 

Sebetulnya kami sudah menghitung kalau peluang Bella vs Sindhu 50-50. Ganda seharusnya kita bisa ambil, jadi satu poin lagi dari Firda.

 

Hasil undian tim Uber di perempatfinal sudah cukup baik, apakah formasi tim India di luar dugaan?

 

Kami sudah mengantisipasi, karena mereka menurunkan formasi yang sama saat melawan Thailand di penyisihan.

 

Tuhan sudah memberikan jalan, doa kami sudah terkabul saat terhindar dari Tiongkok di perempatfinal, tetapi kami masih belum bisa melewati tim India. Padahal di dalam hati kami ada keyakinan bisa menang.

 

Evaluasi apa yang akan dilakukan usai kejuaraan ini?

 

Jangan hanya sedih dan menyesal, tetapi kami juga harus introspeksi diri. Kalau saya lihat para pemain masih kurang di power, khususnya kekuatan otot tangan dan kaki.

 

Anak-anak sudah punya tekad dan keinginan, tapi fisiknya tidak mendukung. Di bulutangkis, otot kaki tak cuma digunakan untuk maju, tapi juga mundur. Kalau kita lihat, Saina Nehwal dan Sindhu lincah sekali gerakannya. Otot kakinya kuat.

 

Kalau mau jadi juara itu memang mahal harganya. Dibutuhkan kerja keras dan disiplin. Soal beban itu pasti dirasakan tiap pemain, tapi kita harus bisa mengontrol. Kalau tidak mau ada beban ya jangan jadi atlet. Kekalahan ini kami jadikan pembelajaran untuk bisa lebih baik lagi ke depannya.

 

Apakah target semifinal yang ditetapkan di awal cukup realistis?

 

Menurut saya target semifinal cukup realistis. Melihat kemampuan para atlet, mereka bisa smash, lob, netting dan semuanya bagus di latihan. Tetapi ketika di pertandingan tidak keluar.

 

Kejuaraan Dunia 2015 akan digelar di Jakarta. Tentunya sebagai tuan rumah, Indonesia ingin mencetak prestasi. Upaya apa yang bisa dilakukan?

 

Kalau secara teori olahraga, memang sulit meningkatkan kemampuan mereka. Namun bagaimana caranya kami bisa membalikkan performa atlet di penampilan terbaik mereka.

 

Asalkan ada kemauan dari atletnya. Kalau mau juara memang ada harga yang harus dibayar.

 

Selain itu, menurut saya harus ada role model di tim putri. Supaya mereka bisa mencontoh dan meneladani. Anak-anak bisa memetik pelajaran.

(acf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini