"Enggak Ada yang Mau Balik ke Moto2!"

Randy Wirayudha, Jurnalis · Selasa 19 November 2013 16:23 WIB
https: img.okezone.com content 2013 11 19 38 899371 P5HHgWi7hB.jpg Stefan Bradl (Foto: Stefanbradl.com)

AUGSBURG – Banyak yang bilang bahwa persaingan di MotoGP terkesan monoton. Perebutan podium tak dianggap bisa diklaim joki lain selain trio Spanyol, Jorge Lorenzo, Marc Márquez dan Daniel Pedrosa. Banyak pula yang mengatakan persaingan di Moto2 lebih seru.

 

Lebih seru lantaran persaingannya lebih luas – lebih dari empat sampai lima pembalap bisa dikatakan punya peluang yang sama untuk menang. Tapi buat alumnus Moto2, Stefan Bradl, MotoGP tetap lebih menarik. Apalagi jika kembali mengingat target asal di mana bisa membalap di kelas MotoGP, sudah jadi target utama tiap pembalap.

 

“Buat saya (persaingan Moto2 dan MotoGP) sama saja. Serinya MotoGP karena Anda membalap dengan para pembalap terbaik di planet ini. Teknologi dan (perangkat) elektroniknya membuat motor MotoGP jadi tantangan tersendiri. Menarik rasanya jika kita bisa membuat motor-motor itu berlari cepat,” papar Bradl.

 

“Kelas premier adalah mimpi semua orang dan ketika Anda sudah layak, Anda akan tahu rasanya. Sungguh hebat bisa mengendarai motor tercepat melawan para pembalap sedunia. Tak masalah jika Anda masih di Moto2, itu hanya batu pijakan dan berada di MotoGP, adalah target semua pembalap,” lanjut rider LCR Honda itu, seperti dinukil Crash, Selasa (19/11/2013).

 

“Tak mudah bertarung untuk menang di MotoGP, tapi pencapaiannya akan lebih hebat. Tentu saya menikmati berada di MotoGP lebih dari Moto2 dan seperti yang saya bilang, kenikmatannya tak terletak pada ketatnya persaingan, tapi juga level teknis motor. Saya pikir, tak ada pembalap MotoGP yang bilang ingin balik ke Moto2,” imbuh Bradl lagi.

 

Musim yang baru saja berakhir, merupakan musim kedua Bradl di MotoGP bersama tim satelit Honda dan jika melihat statistik, capaian Bradl terbilang lebih baik. Bradl finis di klasemen tujuh, lebih baik satu posisi ketimbang musim lalu.

 

Walau jadi satu-satunya joki asal Jerman yang mengaspal selama beberapa tahun ini (di MotoGP), tapi Bradl belum berani bilang bahwa dia pembalap Jerman paling sukses yang pernah ada.

 

“Sulit untuk bilang bahwa saya (pembalap Jerman) terbaik. Saya belum yakin benar tentang era 60an atau 70an. Tapi saya yakin setidaknya saya salah satu di antara pembalap yang sukses. Lebih mudah mengatakan itu karena di Jerman, tak banyak pembalap yang bisa ambil bagian di kelas premier,” tambahnya.

 

“Ayah saya, Helmut, pernah jadi runner-up di kelas 250cc pada musim ’91 dan dia jadi inspirasi yang hebat buat saya. Dia juga pertama kali membuat saya tertarik pada motor saat muda. Mungkin jika dia tak sukses, saya takkan ada di sini sekarang,” tandas joki kelahiran Augsburg 23 tahun silam tersebut.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini