Kasus Malpraktik Atlet Equestrian Masuki Babak Baru

Windi Wicaksono, Jurnalis · Rabu 24 Juli 2013 19:53 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 24 43 842115

JAKARTA – Kasus malpraktik yang menimpa Atlet dan pelatih cabang olahraga Equestrian (berkuda) Adinda Yuanita memasuki babak baru. Keluarga besar Adinda Yuanita akhirnya menunjuk kuasa hukum Susy Tan untuk memasukkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

 

Adinda Yuanita melalui penguasa hukumnya menggugat Eric Luis Adiwati (Tergugat-I) dan pihak Rumah Sakit Sahid Memorial Jakarta (Tergugat-II). Gugatan Adinda Yuanita resmi dimasukkan ke PN Jakarta Pusat satu bulan yang lalu, setelah kedua belah pihak gagal melakukan mediasi.

 

Kasus malpraktik terhadap Adinda Yuanita memasuki masa persidangan dengan sidang pertama untuk mendengarkan pembacaan gugatan yang digelar, Rabu (24/7). Seperti diketahui, 6 November 2012 Adinda terjatuh saat melakukan persiapan bertanding untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) EFI-JPEC di Sentul, Jawa Barat. Namun, pada saat itu Adinda tidak merasakan apa-apa. Malah, di kejuaraan itu yang dihelat 9-11 November Adinda berhasil menyabet beberapa emas.

 

Tapi, dengan saran dari keluarga Adinda akhirnya menemui DR.Eric LuisAdiwati di Rumag Sakit Sahid Memorial Jakarta 13 November 2012. Adinda pun mendapatkan serangkaian tindakan medis berupa penyuntikan dan infus dari dokter tersebut, sehabis menyabet empat medali pada Kejuaraan Nasional EFI di Sentul, Jawa Barat, pada November 2012.

 

"Akibat dari adanya tindakan dari dokter itu Adinda telah mengalami kerugian material dan imaterial. Yang terpenting, Adinda bersama tim Equestrian Indonesia kehilangan kesempatan untuk mengibarkan merah putih di kancah internasional," kata Kuasa Hukum Adinda, Susy Tan kepada wartawan, Rabu (24/7/2013).

 

"Pemberian obat yang dikatakan oleh dr. Guntur sebagai Anti Inflamatory (anti pembengkakan atau peradangan yang disebabkan oleh patah tulang) yang diberikan melalui 15 kali suntikan dalam 7 hari, ternyata mengandung steroid dosis tinggi. Dan hal ini adalah penyebab dari berbagai efek samping yang diderita Adinda yang pada akhirnya Adinda didiagnosa mengalami Iatrogenic Cushings Syndrom," terangnya.

 

Tiga pekan setelah itu, Adinda merasakan wajahnya membengkak dan mati rasa, tumbuh gundukan daging pada punuk, badan biru-biru. Dia juga mengalami tremor, sakit kepala yang luar biasa, berat badan naik secara drastis, serta ngilu pada tulang dan otot. Adinda hingga kini harus berobat ke Singapura secara rutin dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

 

Kerugian imaterial yang dialami oleh Adinda di antaranya, hilangnya kesehatan, hilangnya kesempatan mengikuti kejuaraan internasional termasuk di dalamnya hilangnya kesempatan bagi atlet lain berlaga di event internasional, karena Adinda Yuanita juga adalah pemilik kuda yang dipakai atlet equestrian lainnya untuk mengikuti event internasional.

 

"Bahwa ternyata Adinda tidak mengalami patah atau retak tiga tulang rusuk dan tulang ekor, juga tidak menderita osteoporosis sehingga semestinya tidak memerlukan tindakan medis seperti yang telah diberikan oleh dr. Guntur yang dikatakannya sebagai Anti Inflamatory (suntikan) dan Suplemen Tulang (infus)," jelasnya.

 

"Adinda sendiri tidak hadir dalam sidang pertama ini karena masih mengalami syok akibat kejadian yang dialaminya," tandasnya.

 

Perempuan yang juga aktif berperan sebagai manajer dan tim pelatih atlet berkuda itu kemudian dibawa ke Singapura pada Januari 2013. Salah satu prestasi Adinda adalah menempatkan tim kuda Equinara Zandor dan rider Ferry Wahyu Hadiyanto pada rangking pertama di Liga Asia Tenggara Rolex Show Jumping Ranking dengan mengumpulkan point tertinggi 19.

 

Hal ini secara otomatis mengantarkan mereka sebagai tim Indonesia pertama dalam sejarah equestrian Indonesia yang lolos sebagai finalis pada ajang paling bergengsi Piala Dunia FEI Rolex World Cup 2013 di Swedia.

 

(win)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini