Menpora Upayakan Penyelesaian Dualisme Equestrian

Windi Wicaksono, Jurnalis · Minggu 28 April 2013 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 28 43 798762

SALATIGA – Hadirnya Menpora, Roy Suryo pada Kejuaraan Ketangkasan Berkuda (Equestrian) Jateng Master 2013, Salatiga Jateng (27/4) yang diselenggarakan oleh Eqina, sempat dikhawatirkan menjadi ajang pengakuan dukungan terhadap Menpora kepada salah satu organisasi.

 

Equestrian dari dua organisasi yang sedang berseteru antara Eqina yang baru terbentuk dan berinduk ke Pordasi dengan EFI (Equestrian Federation Indonesia) yang resmi diakui oleh KONI dan FEI (Federasi Equestrian Internasional). Namun Menpora berjanji untuk segera menyelesaikan masalah ini.

 

“Ini urusan saya, dan akan saya selesaikan seperti menyatukan perpecahan di kubu sepakbola Indonesia,” ujar Roy, kepada wartawan.

 

Menyikapi hal tersebut Anggota dewan pembina PP EFI, Teuku Riefky Harsya yang diwawancara pada Sabtu (27/4) mengatakan, "Sebagai sahabat saya salut gaya kepemimpinan Menpora Roy Suryo. Beliau menyempatkan diri hadir pada pembukaan Jateng Master ditengah-tengah route Rally PPMKI Jawa Tengah.

 

“Hal ini memang sudah dibicarakan sebelumnya dan merupakan rangkaian upaya mempersatukan stakeholder equestrian," ucapnya.

 

Riefky juga menyampaikan sebelum dan sesudah acara 'Jateng Master' tersebut, dia memang berkomunikasi dengan Menpora. Dia menghargai sikap Menpora yang mau terjun langsung melihat situasi terkini equestrian Indonesia.

 

"Bagaimana Menpora mau menyelesaikan suatu masalah, apabila tidak melihat sendiri

pihak-pihak yang perlu dipersatukan. Oleh karena itu, Menpora tadi merasa perlu hadir pada acara yang digelar Eqina. Jadi jerih payah Menpora harus kita hargai dan dukung. Jangan disalahartikan sebagai keberpihakan Menpora," terangnya.

 

Ditanyakan mengenai alasan terpecah belahnya masyarakat equestrian

Indonesia, Riefky mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak yang kurang puas dengan seleksi yang dilakukan jelang SEA Games 2011 lalu. Namun, Riefky mengaku tidak tahu secara pasti, karena ketika hal itu terjadi, dia tidak terlibat didalamnya.

 

"Tadinya isu yang ada adalah terpisahnya cabor equestrian dari PORDASI. Pemisahan equestrian tersebut juga harus dilakukan, karena wajib menyesuaikan aturan dari FEI

(Federation Equestrian International) bahwa equestrian tidak boleh di bawah organisasi lainnya,” jelasnya.

 

“Saya pikir ada beberapa alasan, salah satunya berawal pada saat penyisihan untuk membentuk tim nasional SEA Games 2011. Saya dengar ada pihak-pihak yang tidak puas karena kuda dan rider andalan yang mereka miliki tidak lolos seleksi ke dalam timnas SEA Games. Saat itu memang saya bukan termasuk tim penyeleksi, jadi tidak tahu persis proses penyisihannya,” tuntasnya.

 

Sejak November 2011 itulah masyarakat equestrian mulai terpecah dan pihak-pihak yang tidak puas membentuk kumpulan equestrian baru, membuat munas dan mendeklarasikan diri ingin kembali di bawah PORDASI serta menamakan diri Eqina.

 

(win)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini