Kasus Tiket Pembukaan Resmi Dilarikan ke KPK

Banda Haruddin Tanjung, Jurnalis · Selasa 25 September 2012 00:22 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 25 251 694544 jfzjKkLI2H.jpg (Foto: ist)

PEKANBARU - Kasus komersialiasi penjualan tiket masuk upacara pembukaan PON XVIII Riau, resmi dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dugaan korupsi acara penjualan tiket ini Opening Ceremony PON ini dilaporkan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Riau.

"Alasanya kita melaporkan karena penjualan tiket masuk PON itu tidak ada dasar hukumnya. Kita sudah resmi melaporkan kasus ini ke KPK," kata Direktur Lembaga Hukum Advokas (LHA) LIRA Riau, Desmaniar kepada Okezone.

Menurut Desmaniar, ada 20 item bukti tentang kasus penjualan tiket PON yang telah dilaporkan ke KPK. Salah satunya buktinya tiket masuknya.

"Padahal mengenai acara PON sudah dibebankan pada keuangan Negera, termasuk penjualan tiket. Tapi mengapa masyarakat dibebankan lagi melalui komersialiasi penjualan tiket tanpa dasar hukum," ucapnya.

"Dan PB PON dalam hal ini sendiri telah melakukan pemungutan liar yang kita duga untuk kepentingan pribadi atau golongan. Ini harus di usut. Karena PON adalah pesta rakyat, tapi mengapa mereka kembali dibebani," pungkasnya.

Menurut dia alasan KPK harus mengusutnya karena hasil dari penjualan tiket yang tanpa dasar hukum ini karena nilainya lebih dari Rp 1 miliar.

"Hasil penjualan tiket itu mencapai Rp 1,6 miliar. Jadi KPK punya hak untuk mengusutnya. Walau nilainya tidak terlalu besar tapi melakukan pengutan liar ini sudah masuk ranah hukum. Biar KPK yang akan menilainya," katanya lagi.

Seperti diketahui saat pembukaan PON pada 11 September 2012 lalu warga dipaksa untuk beli tiket jika ingin menyaksikan langsung di Stadion Utama Riau. Tiket yang dijual sangat memberatkan masyarakat yakni dari Rp 100 ribu hingga Rp 2 juta untuk satu orang.

Putusannya Panitia PB PON ini ternyata berdampak pada sepinya pembukaan PON yang dihadiri Presiden SBY. Walau pada akhirnya panitia terpaksa menggratiskan karena sepinya penonton. Padahal, ribuan warga sudah terlanjur membeli tiket masuk. Ini juga yang menjadi persoalan baru.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini