Catatan Minus Akhir PON

Randy Wirayudha, Jurnalis · Jum'at 21 September 2012 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 21 251 692991 JF0lAWiZNF.jpg Wisma Atlet. (Foto: Randy Wirayudha)

PEKANBARU – Pesta olahraga se-nusantara akhirnya ditutup oleh Wakil Presiden, Boediono, di Stadion Utama Riau, tadi malam (20/9/2012). Perayaan meriah pun dihadirkan kembali meski tak bisa menutupi catatan-catatan minus pada PON ke XVIII di Riau.

 

Dari berbagai media, termasuk Okezone, kita semua di seluruh penjuru negeri bisa tahu, apa-apa saja goresan kelam yang terjadi di berbagai akivitas PON, mulai dari kericuhan pertandingan hingga venue-venue yang tak juga rampung sampai PON resmi ditutup.

 

Memang beberapa waktu lalu, Gubernur Riau yang juga selaku ketua umum PB PON, Rusli Zainal, menyayangkan sikap sejumlah media yang hanya membesar-besarkan hal-hal negatif, ketimbang positifnya. Tapi mau bagaimana lagi jika negatifnya terlalu dominan?

 

Memang jika merinci apa-apa saja yang minus di Pekanbaru dan venue-venue lain di luar ibukota propinsi, takkan cukup tempat dan waktu untuk mengulasnya hingga habis. Tapi setidaknya, ada beberapa sorotan Okezone yang terbilang ‘benar-benar’ tak bisa ditolelir.

 

Amburadulnya wisma atlet bisa jadi pengawal yang baik untuk mengurai hal-hal minor di penyelenggaraan PON kali ini. Hingga para kontingen tiba, belum satu pun kamar yang bisa ditempati. Padahal, beberapa kontingen yang ditetapkan menghuni wisma di Rumbai itu sudah membayar kepada PB PON.

 

Baru-lah seiring berjalannya waktu, beberapa kamar wisma bisa ditempati para atlet – itu pun masih menuai keluhan. Sorotan berikutnya yang tak kalah penting adalah perihal venue. Venue tenis di PTPN V pernah menyulut kegemparan karena kanopi di depan lobi venue sempat roboh dihantam angin kencang. Meski akhirnya disubtitusikan tenda yang mirip seperti di acara-acara pernikahan, tetap saja dinilai tak layak, terlebih ketika hujan deras tiba.

 

Begitupun dengan venue –venue lainnya yang bisa dibilang jauh dari kata selesai. Venue boling dan biliar, contohnya. Gedung yang bertempat di kawasan Bandar Serai itu amat jauh dari kata rampung. Pengerjaan yang selesai hanya terdapat di internal gedung, tempat berlangsungnya pertandingan.

 

Tapi soal keutuhan gedung mulai dari tempat parkir di lantai dasar hingga penampakan gedung dari luar...ckckck...layaknya sebuah proyek bangunan setengah jadi. Di antara itu, ada pula venue yang dianggap tak layak untuk keselamatan, seperti venue menembak di Lapangan Tembak Sport Center Rumbai.

 

Baru dipakai latihan, tembok di belakang acuan target jebol diterjang peluru. Bagian belakang tembok pun hanya dilapisi susunan karung berisi pasir. Padahal, menurut standar keselamatan olahraga menembak, harusnya tembok di belakang target dilapisi pelat baja.

 

Adapun dengan venue-venue yang sudah jadi, masih belum sempurna karena akses jalannya belum sepenuhnya rapi, seperti di venue Pencak Silat dan Balap Motor di Bangkinang serta venue Taekwondo di UIN Sultan Syarif Kasim.

 

Tapi, diantara venue-venue yang dikunjungi reporter kiriman Okezone yang pernah dituju sebagai tempat peliputan, ada pula yang sudah terkesan sempurna, seperti stadion Atletik, Akuatik, Senam (Rumbai), Bulutangkis, Angkat Besi/Angkat Berat, Karate dan Gulat. Meski begitu, masih ada sedikit hal minor, terutama untuk para awak media.

 

Di venue cabang sepak takraw misalnya, panitia di sana tak menyediakan adanya media center untuk memudahkan tugas peliputan. Jika ingin melihat bagan-bagan atau jadwal pertandingan, mesti-lah bergeser ke venue bulutangkis karena media centernya satu atap di gelanggang remaja. Begitupun di Rumbai, yang hanya menempatkan satu media center di stadion basket, untuk cabang sepakbola, senam, akuatik, atletik dan wushu.

 

Belum lagi perkara-perkara pelik lainnya, seperti kericuhan di cabang Karate, Tinju, Sepakbola dan Pencak Silat. Ditambah, adanya curhatan para wasit atletik, renang, futsal, yang sempat berdemo karena hak-haknya belum dicairkan PB PON, hingga belum adanya kepastian penggantian uang tiket upacara pembukaan yang sudah terlanjur dijual. Seperti yang kita ketahui, pembukaan PON pekan lalu akhirnya digratiskan panitia setelah melihat minimnya animo masyarakat yang datang ke Stadion Utama Riau.

 

Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengakomodir kebutuhan para wartawan akan data, PON kali ini dianggap belum siap karena para pekerja berita mesti terlempar ‘sana-sini’ karena tidak adanya koordinasi yang baik. Hanya di media center pusat yang bertempat di Pustaka Soeman HS, para awak media mendapat segala kemudahan dan sarana lainnya.

 

Setidaknya itulah secuil gambaran tinta kelam PON ke-18 kali ini, meski beberapa pihak, termasuk Menpora Andi Mallarangeng menyatakan, PON kali ini sukses terselenggara. Bagaimana dengan PON XIX empat tahun lagi di Jawa Barat (Jabar)? Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, yang mengunjungi venue voli indoor pada laga final di Universitas Islam Riau mengatakan, PON di Jabar akan lebih bagus (sempurna) dari PON kali ini. Semoga saja begitu keseluruhannya.

(hmr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini