nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bicara Bibit Madura, Christo Sampai Kei Nishikori

Fitra Iskandar, Jurnalis · Rabu 01 Februari 2012 16:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2012 02 01 433 567648 5YvFvg44sB.jpg Bonit Wiryawan.(foto:Fitra Iskandar/Okezone)

Indonesia pernah menjadi Macan Asia di era 1990-an ketika nama-nama seperti Suwandi, Bonit Wiryawan, Yayuk Basuki, masih menghiasi daftar elite petenis Indonesia. Bahkan delapan tahun sebelumnya, Indonesia pernah menembus 16 besar dunia. Waktu itu Yustedjo Tarik, Tintus Arianto Wibowo dkk, membuat nama Indonesia sangat ditakuti bahkan oleh Jepang, negara yang kini punya produk atlet seperti Kei Nishikori, petenis ranking 20 dunia.

Setelah 2002, era Angelique Widjaja, reputasi Indonesia semakin tenggelam. Untuk level Asia Tenggara saja, Indonesia masih dianggap di bawah Thailand dan Pilipina.

“Kita masih harus kerja keras. Pembinaan harus kontinyu,” kata pelatih Tim Davis Indonesia Bonit Wiryawan, saat ditemui okezone di lapangan tenis kediaman Ketua PB Pelti Martina Widjaja di Ragunan Jakarta Selatan, pekan lalu.

Kerja keras memang menjadi kata kunci untuk mengembalikan kejayaan tenis Indonesia. Menurut pria 43 tahun yang pernah menyabet perak di Asian Games 1994 ini Indonesia tidak kekurangan bibit unggul. Namun, masih banyak pekerjaan rumah untuk menjadikan mereka atlet yang mampu bersaing di kancah internasional. Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Bagaimana situasi pembinaan tenis di Indonesia. Apakah Indonesia punya bibit unggul masa depan?

Indonesia punya potensi luar biasa. Beberapa kali saya ke daerah ditugaskan PB Pelti seperti Sentra Padang beberapa pekan lalu saya lihat ada pemain junior yang menurut saya cukup bagus. Di Surabaya juga sama. Saya melihat ada pemain-pemain daerah khususnya dari Madura juga punya potensi sangat bagus. Padahal dulu kita tidak tahu. Tapi kedepannya pembinaan harus berlanjut, sekaligus dikasih wawasan yang lebih.

Maksudnya bagaimana pemain harus memiliki wawasan lebih?

Begini, biasanya mereka terutama di daerah banyak yang saat junior bagus, tapi saat memasuki fase senior prestasinya hilang. Maka itu mereka harus punya wawasan lebih. Sekarang informasi bisa lebih luas didapat. Dari televisi, buku dll.Transportasi juga lebih mudah. Mereka harus keluar jangan terus di daerah sendiri. Misalnya di luar Jawa, ya pertama ke Jawa dulu.

Barometer nasional ada di Jawa. Dulu Jawa Timur, tapi sekarang agak menurun. Maksud saya, jangan merasa sudah cukup jika menjadi juara di daerah, harus ke skup lebih luas ke nasional, kemudian internasional. Wawasan seperti itu yang diperlukan.

Dari sudut pandang apa bibit yang menurut anda luar biasa itu. Apakah secara teknik, atau fisik?

Di Surabaya saya melihat anak-anak menurut saya bagus sekali, tidak seperti zaman saya. Mereka sudah bisa memukul, main sudah bisa, semuanya. Tapi kedepannya saya kurang tahu. Kadang-kadang banyak kendala yang dihadapi. Semua pihak harus bekerja sama secara optimal, ya pelatih orangtua, dan pemain.

Sejauh ini menurut pengamatan anda bagaimana pandangan umum orangtua yang mendukung anaknya ke tempat pelatihan tenis?

Orangtua unsur terpenting juga selain tentu anak itu sendiri. Orangtua sangat vital karena, kalau anak tidak didukung orangtua pasti akan terhambat juga. Jadi harus singkron semua.

Tantangannya juga ada yang menganggap tenis ini tidak bisa menghasilkan. Tapi kalau kita lakukan secara profesional dan maksimal, hasilnya luar biasa. Seperti sekarang lihat Christopher Rungkat, ikon tenis kita saat ini. Kemarin dia dapat 3 emas, berapa yang bisa dia dapatkan untuk materi, luar biasa. Dengan itu banyak hal yang bisa diperbuatnya setelah itu. Tapi untuk memperolehnya, tentu dia kerja keras.

 

Masih banyak orangtua yang memandang sebelah mata profesi petenis?

Masih banyak. Menurut saya sebetulnya kalau dilakukan maksimal ya tenis juga bisa untuk masa depan kita. Ya tentu harus all out, jika kita tidak maksimal, hasilnya pun tidak maksimal.

Menurut anda selain pelatih dan orangtua, kesuksesan pemain itu 70 persen ditentukan dirinya sendiri lalu apa prinsip yang harus dipegang para pemain agar mereka tetap bekerja keras?

Saya selalu menekankan ke pemain, kita latihan saja belum tentu juara, karena yang lain juga latihan. Kalau kita latihan sampai 100 persen lawan juga mungkin sama bahkan 110 persen. Tapi bagaimana kita meng-upgrade diri kita sendiri supaya jadi yang terbaik dan tidak cepat puas.

Seperti sekarang, emas SEA Games sudah dapat, tapi jangan enak-enakan lagi. Masih ada Davis Cup dan yang lain lagi, jangan berhenti di situ, target apa lagi yang ingin dicapai? harus kerja keras.

Kita bisa lihat kemarin Australian Open, pemain Jepang Kei Nishikori umurnya baru 22 tahun seperti Christo, sekarang dia sudah ranking 20 dunia, Christo ranking 400. Di SEA Games memang juara, tapi di ajang yang lebih besar kita ketinggalan.

Adakah situasi yang berbeda bagi petenis dulu dan sekarang?

Memang dulu dan sekarang berbeda. Tapi saya lihat ada prinsip yang sama, yang harusnya tetap diemban pemain. Yaiu disiplin.Memang banyak faktor, tapi itu yang utama dari semua ini, harga mati.

Kenapa kita tertinggal dengan negara lain bahkan di Asia saja kita sudah kesulitan bersaing. Apakah ada perbedaan dalam pembinaan pemain sehingga outputnya pun berbeda?

Saya rasa tidak juga. Yang perlu ditambah adalah jam terbang untuk pertandingan. Misalnya di Indonesia boleh dikata yang paling bagus Christo, jadi dia harus pergi ke luar mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Di Amerika banyak sekali yang lebih di atas dia, kalau di sini dia terlalu gampang. Barometer dunia kan Amerika atau Eropa, jadi dia harus ke sana. Perbedaannya jam terbang.

Masalahnya juga saya dengar di Indonesia pemain sulit berkembang karena sulit mendapatkan sparing partner yang sepadan, begitu juga jika ingin menjajal pemain yang level usia nya lebih tinggi?

Seharusnya tidak seperti itu.Yang di atas tidak bisa egois. Mungkin juga yang di atas takut kalah. Tapi menurut saya tidak seperti itu. Tapi itu sebenarnya bisa diakali dengan sistem poin handicap (sistem poin untuk pertandingan antar pemain berbeda level). Seperti sekarang kita juga ada lawan tim perempuan, bisa saja yang laki-laki tidak mau, tapi saya tidak mau, itu harus. Selain untuk berbagi, latihannya kan ada handicap, misalnya dia service 0-30 dll. Kalau selalu ingin main dengan lawan yang di atas, bagaimana dengan Federer, bagaimana dengan Nadal?

Langkah pembinaan itu biasanya seperti apa?

Jadi latihannya untuk pemula, menengah dan lanjut. Jadi memang beda-beda tapi prinsipnya sama tinggal volumenya disesuaikan.

Kalau junior di bawah 14 tahun kita harus melatih mereka dengan skill. Jagan cari menang dulu, kalau sudah cari menang, anak nanti cenderung mainnya asal aman dan konsisten tapi tidak punya senjata. Padahal dari awal pemain harus punya senjata andalan untuk di kemudian hari. Beda dengan umur advance, memang harus cari menang bukan main bagus. Dan tidak selalu saat U-14 juara, saat senior akan juara. Karena terbiasa main aman, lupa mengasah skill.

Bagaimana pola pelatihan di luar negeri lebih keras atau sama saja dengan di Indonesia?

Jam latihan hampir sama. Desember 2010 saya ditugaskan ke Thailand, saya cukup senang waktu itu dengan program di sana. Drilling pagi hari kemudian sore main. Hampir sama. Ketua Pelti Martina sering memanggil pelatih dari luar, saya ambil positifinya. Saya banyak belajar dari mereka juga, yang penting semua konsisten dan kontinyu. Prestasi tidak serta merta datang harus melalui upaya yang berkesinambungan.

Lalu apa yang kurang di Indonesia, bagaimana peran pemerintah?

Pemerintah tidak bisa diharapkan banyak. Seharusnya sekarang ini pemerintah bisa lebih memperhatikan atlet karena yang bisa mengharumkan negara, salah satu nya dengan olahraga.

Konkretnya paling tidak ada turnamen berskala nasional bahkan kalau bisa internasional, karena tenis ini tidak bisa berhenti-berhenti. Dari minggu ke minggu harus ada pertandingan terus. Pemain top dunia itu mengikuti turnamen dari pekan ke pekan selama satu tahun tidak berhenti, bagaimana yang belum top? harusnya lebih rajin lagi kan.

Saya mengerti itu berat. Untuk memiliki jam terbang banyak, cukup mahal. Makanya kalau bisa, kita mengadakan sendiri tidak usah kita keluar minimal secara nasional saja.

Seperti di Spanyol. Mereka punya pertandingan internasional 44 kali dalam setahun, kita di Indonesia sekitar empat sampai lima dalam setahun. Padahal kita harus punya 25-35 kali pertandingan setahun.

Kalau kuotanya kurang, kredit poin kurang maksimal, mereka Cuma 5-10 kali bertanding. Jadi seperti belajar, kalau kredit poinnya kurang kan her lagi, her lagi.

 

Kapan kira-kira Indonesia bisa kembali jadi Macan Asia lagi di kancah tenis, melihat perkembangan yang ada saat ini?

SEA Games kemarin saja kita unggulan ketiga setelah Thailand, dan Pilipina. Bagaimana dengan Asia, ada Jepang Cina, dan Korea. Jepang bukan take off lagi, tapi sudah di bulan. Zaman saya, Asian Games dapat perak, sekarang mana bisa.

Tapi ada modal ke sana tapi tentu tidak gampang, harus kerja keras. Dengan pertandingan-pertandingan yang cukup, dan latihan maksimal. Tapi ya agak lama karena persaingan luar biasa.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini