Jagoan Indonesia Memulai Jepang Super Serie dari Bawah

Edi Yulianto, Jurnalis · Senin 19 September 2011 21:01 WIB
https: img.okezone.com content 2011 09 19 40 504499 ynlbMa9bic.jpg dua ganda putri andalan Indonesia, Vita dan Nadya (Foto: Daylife)

JAKARTA – Babak Kualifikasi Jepang Super Series 2011 wajib dilalui beberapa pebulutangkis Indonesia yang di proyeksikan pada SEA Games 2011. Mereka terpaksa melewati rintangan itu setelah kalah bersaing dengan para pesaingnya dari segi ranking dunia.

 

Sony Dwi Kuncoro dan Maria Febe Kusumastuti, misalnya. Mereka memulai rivalitas dari kualifikasi, Selasa (20/9/2011). Bertanding di Tokyo Metropolitan Gymnasium hari ini, Sony akan menghadapi Shuhei Hayasaki (Jepang) di pertandingan pertama tunggal putra.

 

Meski mereka belum pernah bertemu sebelumnya, namun peluang Sony mengalahkan Hayasaki tampaknya terbuka lebar. Performa Sony terus menanjak bulan ini, apalagi Sony sempat melaju sebagai semifinalis di Taiwan Grand Prix 2011. Bandingkan dengan Hayasaki yang rapornya relatif datar.

 

Peluang lolos ke final round Jepang Super Series 2011 juga dimiliki Maria di tunggal putri. Pebulutangkis berusia 21 tahun tersebut akan menghadapi Thulasi PC (India). Mengacu pada pertemuan sebelumnya, Maria mengandaskan Thulasi di Vietnam International Challenge 2009, 21-13, 21-19.

 

Sekretaris Jenderal PBSI Yakob Rusdianto membenarkan mereka akan memulai laga dari kualifikasi, karena faktor peringkat dunia. Sony saat ini berada di peringkat 69 BWF, lalu Maria berada di posisi 40 BWF. Namun, performa relatif stabil ditunjukkan Maria sejak awal musim ini.

 

”Mereka harus berjuang dari awal karena peringkatnya kurang memadai. Itu menandakan peserta di Jepang bagus-bagus. Hal itu sebenarnya wajar dan mereka harus siap kerja keras agar mendapatkan hasil maksimal,” ungkap Yakob, Senin (19/9/2011).

 

Jepang Super Series tahun ini memang diikuti pebulu tangkis top dunia. Tunggal putra dihuni Le Chong Wei (Malaysia), Lin Dan (China), Peter Gade (Denmark), termasuk Taufik Hidayat.

 

Trio tunggal putri China, Wang Yihan, Wang Shixian, dan Wang Xin juga ambil bagian di sana. Bukan hanya tunggal, ganda putra juga diikuti Cai Yun/Fu Haifeng (China), Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark). Wang Xiaoli/Yu Yang (China) akan bersaing dengan Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (Jepang). Sementara ganda campuran Indonesia, Ahmad Tontowi/Lilyana Natsir harus bersaing dengan Zhang Nan/Zhao Yunlei (China).

 

”Persaingan di atas kertas sebenarnya sangat berat. Kalau ingin juara, mereka harus bekerja lebih keras. Tapi, untuk beberapa pemain muda, turnamen ini akan memberikan pengalaman yang sangat berharga,” terangnya.

 

Mengacu kepada hasil drawing, beban berat di fase awal tampaknya dimiliki tunggal putra Hayom Rumbaka. Hayom akan menghadapi unggulan delapan Du Pengyu (China). Beban serupa juga dimiliki ganda putri Vita Marissa/Nadya Melati yang akan melawan unggulan empat China Tian Qing/Zhao Yunlei. Selain kekuatan teknis lawan, beberapa pebulu tangkis Indonesia juga harus melawan faktor non teknis seperti cedera.

 

Karena itu, Yakob berharap cedera yang sempat membelit Greysia Polii tidak kambuh. ”Beberapa nama memang dihadapkan pada masalah non teknis. Semoga Greysia tidak lagi bermasalah dengan tangannya, meski hasil pemeriksaan dokter menunjukan tidak ada yang berbahaya. Kami juga berharap permainan Simon Santoso lebih stabil,” lanjutnya.

 

Sementara Sony tak ambil pusing dengan rintangan yang akan dilaluinya dari babak kualifikasi. Dia menilai bisa menunjukkan penampilan terbaiknya jika tak terganggu masalah cedera yang sempat menghantuinya dalam beberapa tahun terakhir.

 

Cedera punggung sempat menjadi kendala utama pebulutangkis asal Surabaya tersebut. Bahkan, posisinya di ranking dunia terus anjlok akibat absennya Sony di turnamen sebelumnya. Tapi, seiring kesembuhannya, Sony optimistis akan menemukan permainan terbaiknya secara perlahan.

 

“Saya masih memiliki kesempatan di sini. Tinggal konsentrasi dan tak lengah menghadapi siapapun. Satu lagi, saya berharap tak mengalami gangguan kesehatan selama berkiprah di turnamen ini. Apalagi, turnamen ini dijadikan simulasi terakhir sebelum berlaga di SEA Games,” tutur Sony. 

 

(seb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini