Menjaring Bibit Pemain Hingga Pelosok Negeri

Hendra Mujiraharja, Jurnalis · Selasa 29 Maret 2011 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 29 40 440143 Lmr0mYGuas.JPG Para Juara kompetisi MILO di Batam. Foto: Dok. MSC

JAKARTA - Bulutangkis merupakan cabang olahraga yang telah puluhan tahun menjadi andalan Indonesia dalam mengukir prestasi dunia. Sebagai induk organisasi bulutangkis di Indonesia, Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) terus menerus bekerja keras menemukan pemain generasi mendatang. Regenerasi pemain harus berjalan dengan baik hingga ke pelosok daerah.

 

Salah satu cara mendapatkan bibit pemain adalah melalui turnamen tingkat sekolah, dasar kompetisi bagi seorang pemain untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. MILO School Competition adalah satu-satunya kompetisi bulutangkis tingkat SD dan SMP saat ini. Turnamen ini telah digelar di banyak daerah, dari Sabang sampai Merauke, seluruh pelosok negeri dijamah turnamen ini, sehingga bibit-bibit unggul terjaring.

 

Tahun ini MILO School Competition sudah berjalan satu dekade, telah digelar di 20 kota di Indonesia dan diikuti lebih dari 22.000 pelajar. MILO School Competition merupakan wadah bagi calon atlet yang ingin menunjukan ketrampilannya di bulutangkis. Dengan digelar di berbagai pelosok negeri, maka para pemain belia akan merasakan sebuah kompetisi. Para pemain muda butuh pertandingan resmi sehingga mereka bisa merasakan kerasnya persaingan.

 

Sejumlah atlet nasional yang kini berlaga di berbagai sirkuit maupun kejuaraan internasional pernah tercatat sebagai juara MILO School Competition, seperti Tommy Sugiarto (juara 2003) dan Febby Angguni (juara 2004). Bulan Maret ini Tommy Sugiarto dan Febby Angguni baru saja menjuarai Sirnas Palangkaraya. Selain itu, MILO School Competition juga melahirkan calon pemain masa depan Indonesia, seperti Rahmad Ali Assidiqi dan Jonatan Christie. Pada 2009, Rahmad meraih medali emas tunggal putra di ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) III/2009.

 

Tommy Sugiarto, juara MILO School Competition 2003 yang kini menjadi atlet profesional setelah beberapa tahun menghuni Pelatnas PBSI Cipayung mengatakan, kompetisi ini sangat berguna bagi para pemain belia untuk unjuk kebolehan. Menurutnya, turnamen ini sebagai salah satu wahana untuk pembinaan dan pembibitan pemain.

 

“Saya senang pada saat bisa menjadi pahlawan untuk sekolah saya (SMP 176 Jakarta),” kata Tommy. Putra juara dunia 1983 Icuk Sugiarto itu menilai, setelah menjadi juara, maka motivasinya menjadi pemain sangat besar. “Alangkah gembiranya bila pelajar itu bisa tampil membawa nama sekolah, seperti yang saya alami dulu,” lanjutnya dalam rilis yang diterima Okezone, Selasa (29/3/2011).

 

Febby Angguni pun demikian, juara MILO School Competition 2004 yang pada saat itu masih bersekolah di SD Ujung Berung begitu antusias saat mendengar turnamen akan digelar di Bandung. "Saya sangat senang karena waktu itu Bandung menjadi tuan rumah dan akhirnya saya menjadi juara, karena keberhasilan tersebut saya disambut teman-teman dan guru-guru. Bahkan, ada upacara khusus waktu itu," ujar pemain asal Bandung.

 

"Setelah mengikuti MILO School Competition saya lebih percaya diri, saya bisa belajar sportifitas, pantang menyerah menghadapi siapa pun," kata Febby yang juga menjuarai MILO Junior Indonesia Open 2007 ini.

 

Jonatan Christie juga sangat bangga dapat menjadi juara MILO School Competition dua kali berturut-turut, tahun 2010 dan 2011. Pemain yang tahun ini genap berumur 14 tahun ini saat ini merupakan pemain yang dipersiapkan ke Olimpiade Remaja 2014 mendatang. Karena masuk tim, dia juga mendapat uang saku setiap bulannya.

 

“Dengan mengikuti MILO School Competition saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Saya bisa belajar percaya diri dan pantang menyerah, pelajaran itu saya keluarkan saat saya menjuarai Asian Youth U-15 di Jepang tahun lalu. Dengan semakin banyak mengikuti turnamen, maka pemain akan dapat ilmu, terutama soal mental bertanding yang membuat kita kuat dan tidak takut menghadapi lawan,” kata Jonatan, yang merupakan juara pelajar ASEAN 2008. Karena juara ASEAN ini, Jonatan mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berupa Satya Lencana Wirakarya.

 

Ketua Bidang Turnamen dan Perwasitan PB PBSI Mimi Irawan menyatakan PBSI sangat terbantu dengan adanya MILO School Competition dan oleh karenanya akan selalu mendukung kejuaraan ini. "Kami tentu berterima kasih kepada MILO yang sudah mendukung sejak lama. Kejuaraan ini sangat penting, karena akan menambah jam terbang anak-anak di daerah," kata Mimi. Mimi juga berharap kejuaraan ini lebih banyak digelar lagi di berbagai kota. "Kalau bisa delapan kota setiap tahun dan merata setiap wilayah sehingga akan banyak ditemukan bibit pemain," ujarnya.

 

Senada dengan Mimi Irawan, legenda bulutangkis Indonesia yang juga Kepala Sub Bidang Pelatnas PB PBSI, Christian Hadinata mengatakan, “MILO School Competition membantu PBSI dalam memassalkan bulutangkis. PBSI lebih luas jangkauannya, karena turnamen ini digelar di berbagai kota di Indonesia.” Selama ini, kata Christian, banyak turnamen yang hanya mempertandingkan para pemain berdasarkan kelompok atau perkumpulan karena sebagian besar pemain berlatih di klub bukan di sekolah.

 

“Jika ada pihak lain yang mau membuat turnamen serupa seperti MILO School Competition, itu lebih baik lagi. Dari situ, kemungkinan mendapatkan banyak bibit masa depan akan lebih besar. Sekali lagi, jangkauan kita dalam memantau akan lebih luas dan tentu lebih baik lagi. Bila ada pemain yang berlatih di sekolah tentu, ini kesempatan bagi mereka untuk unjuk gigi. Bukan tidak mungkin ada klub yang tertarik merekrutnya,” katanya.

 

“Lewat sekolah tentu lebih simpel, yang penting menjangkau daerah-daerah. Itu akan membangkitkan perbulutangkisan di daerah,” ujar mantan juara All England ini. "Kita akan banyak menjaring atlet dari Sabang sampai Merauke jika turnamen ini digelar di semua daerah.

 

MILO School Competition telah turut memassalkan bulutangkis hingga ke berbagai daerah di Indonesia, hal tersebut merangsang daerah-daerah untuk memajukan bulutangkis. Selama ini, Jawa masih menjadi barometer bulutangkis di Tanah Air.

 

MILO, sebagai sponsor utama, akan terus berusaha membantu dalam pengembangan bulutangkis tingkat sekolah dari berbagai daerah. “Kami bangga bisa turut ambil bagian dalam pemassalan bulutangkis tingkat sekolah di Indonesia," kata Prillia Sandra, Category Marketing Manager MILO. “Melalui MILO School Competition ini anak-anak Indonesia juga dapat sekaligus belajar nilai-nilai kehidupan seperti pantang menyerah, kerjasama tim, sportifitas dan percaya diri,” tambahnya.

 

MILO tidak pernah sekali pun berhenti memberi dukungan, hal ini merupakan wujud kepedulian MILO dalam perkembangan bulutangkis di Indonesia. "Kami akan terus mendukung kegiatan ini pada masa mendatang karena ini wujud komitmen kami untuk perkembangan bulutangkis Indonesia," kata Prillia

(hmr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini