MELBOURNE - Setahun lalu, Rafael Nadal “jalan cepat” mencatat prestasi di dunia tenis profesional. Dan sekarang, petenis top Spanyol yang berjuang mempertahankan masa-masa kejayaannya.
Sayang, langkahnya kembali terhenti. Cedera lutut kronis mengancam hentakan karier di depan mata. Dan Nadal sadar betul akan derita yang bakal dihadapinya.
Cedera terbukti mumpuni membuatnya mundur dari Wimbledon 2009. Dan kemarin, untuk kali kedua petenis top Spanyol ini gagal mempertahankan gelar Grand Slam.
Seperti dilansir Yahoosports, Rabu (27/1/2010), Nadal mundur dari babak perempatfinal Australia Open 2010, Selasa (26/1/2010), sekaligus memuluskan langkah Andy Murray menapak semifinal. Nadal menghentikan laga menjelang kekalahan setelah dua set pertama direbut Murray, dan belum mereli angka 0-3 di set ketiga.
Membangun reputasi sebagai rival terkejam di olahraga ini, Nadal ternyata takluk dengan cedera. Dengan jiwa besar, petenis 23 tahun itu menjabat tangan Murray dan meminta maaf karena menyerah kalah sebelum pertandingan benar-benar tuntas.
Keluar turnamen dengan cara seperti ini jelas memunculkan spekulasi dan pertanyaan di benak sejumlah pihak. Tentang masa depan Nadal, tentu saja. Mampukah satu hari nanti Nadal mengulang epik dramatis lima set atas peringkat satu dunia Roger Federer sekaligus mengusung trofi pada 2009?
Perjalanan
Federer menangis saat Nadal menerima trofi juara di Rod Laver Arena, tahun lalu. Secara simbolik momen itu menjadi pertanda datangnya maestro baru di dunia tenis profesional.
Melbourne Park menjadi saksi kali kelima Nadal mengganjar master tenis, Federer, di final Grand Slam, setelah tiga kemenangan di Prancis Open (2006, 2007, 2008) dan Wimbledon 2008.
Federer boleh saja merebut rekor 14 gelar Grand Slam Pete Sampras. Namun, prestise Nadal melesat dengan prestasi di usia muda.
Saat angkat piala di ajang Australia Open, Nadal berusia 22 tahun dan telah mengantongi enam gelar. Sedangkan FedEx, di usia itu, baru mengecap gelar Grand Slam pertama. Dan Sampras mengoleksi tiga gelar.
(Devy Lubis)