Lebih Andalkan Teknologi, Masa Depan F1 Tengah Berada di Persimpangan

Sebastian Vettel dan Kimi Raikkonen (Foto: AFP)

Sebastian Vettel dan Kimi Raikkonen (Foto: AFP)

MILTON KEYNES – Tidak dapat dimungkiri bahwa Formula One (F1) merupakan ajang balap mobil paling bergengsi di dunia. Seiring berkembangnya zaman, teknologi yang digunakan untuk menyokong performa mobil dan pembalap juga semakin berkembang.

Kendati demikian, perkembangan tersebut nyatanya mengandung pro dan kontra. Salah satu yang menentang gaya inovasi mesin dan mobil dalam kejuaraan F1 adalah Kepala Tim Red Bull, Christian Horner.

(Baca juga: Dapat Banyak Pertentangan, Mantan Bos F1 Dukung Penggunaan Halo Teknologi Musim 2018)

Horner berpendapat bahwa di masa depan, peran pembalap tidak akan berpengaruh besar. Sebab, kesuksesan dilihat tidak lagi berdasarkan kemahiran pembalap mengemudikan mobil di atas lintasan, melainkan pada kualitas mesin yang digunakan.

“Kami telah melihat bahwa semua pabrikan ini sekarang mendaftar ke Formula-E (Elektronik) – di situlah teknologi berada dan di mana mobil listrik berada. Formula 1 benar-benar berada di persimpangan jalan karena unit daya yang dipilih untuk 2021 dan seterusnya mungkin akan berlangsung selama delapan sampai 10 tahun,” ucap Horner, mengutip dari Fox Sports Asia, Kamis (10/8/2017).

(Baca juga: Punya 2 Slot Tersisa, Banyak Pabrikan Ingin Tampil di F1)

Horner menjelaskan bahwa pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia F1 harus segera bertindak cepat dalam menyikapi keadaan tersebut. Pasalnya, bila terlalu lama dibiarkan, peran pembalap tidak akan menjadi faktor utama lagi.

“Jadi Formula 1 berada di persimpangan jalan, di mana ia harus memutuskan masa depannya, apakah itu benar-benar balapan? Apakah itu mesin pembakaran? Apakah mesin dan manusia ingin tahu siapa pembalap terbaik, dengan teknologi yang mungkin memainkan peran yang sedikit lebih rendah?” tandas Horner.

(fmh)