Keren! Stadion Utama Gelora Bung Karno Akan Dilengkapi Museum Olahraga

SUGBK dalam proses renovasi. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

SUGBK dalam proses renovasi. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

JAKARTA - Komplek Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta akan dilengkapi museum olahraga baru yang modern seluas 4.000 meter persegi dan diharapkan selesai menjelang Asian Games 2018.

"Pendirian museum olahraga di Gelora Bung Karno akan diperkuat dengan perencanaan dan kajian matang dan mendalam, agar menjadi kebanggaan masyarakat olahraga di Tanah Air," kata Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Kementrian Pemuda dan Olahraga Raden Isnanta saat membuka diskusi terbatas di Museum Olahraga Nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Menurut Isnanta, dengan dibangunnya Museum Olahraga di Komplek Olahraga Senayan, bukan berarti museum olahraga di TMII tidak dipakai lagi.

Museum olahraga TMII yang diresmikan Presiden Soeharto pada 20 April 1989, menempati areal seluas 1,5 hektar.

"Museum olahraga TMII akan tetap berfungsi sebagai museum yang khusus untuk jenis olahraga tradisional dan rekreasi, sementara museum di GBK khusus untuk cabang olahraga prestasi yang dipertandingkan di berbagai multi 'event' internasional," kata Isnanta.

Sebagai etalase perjalanan sejarah olahraga nasional, museum olahraga yang akan menempati salah satu bagian Stadion Utama tersebut akan hadir dengan kombinasi tata warna, seni instalasi, disain interior kontemporer, hingga teknologi multi media.

Isnanta mengatakan jika dikemas dengan baik dan professional, Museum Olahraga akan menarik minat masyarakat untuk berkunjung, seperti halnya Museum Angkut di Batu, Malang, Jawa Timur yang diserbu ribuan pengunjung setiap hari.

Kepala Museum Olahraga Nasional Herman Chaniago mengatakan pihaknya sengaja menggelar diskusi terbatas untuk meminta masukan berbagai pihak agar pembangunan Museum Olahraga di GBK bisa berjalan dbaik dan sesuai harapan.

"Kita berharap agar Museum Olahraga di GBK nantinya bisa dikelola seperti museum di Taiwan atau museum Olimpiade yang ada di Lausanne, Swiss yang sangat canggih dan menjadi salah satu tujuan wisata," kata Herman.

Museum Olahraga Nasional sebagai salah satu unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga terus berbenah agar bisa menjalankan fungsi sebagai wadah untuk menyimpan, merawat, melestarikan dan memamerkan prestasi anak bangsa dibidang olahraga.

"Memang keberadaan museum olahraga selama ini kurang dikenal masyarakat, untuk itu kita terus berbenah dengan melakukan berbagai inovasi agar masyarakat tertarik untuk berkunjung," katanya.

Menurut Herman, tidak mudah untuk menciptakan kecintaan terhadap barang-barang bernilai sejarah, apalagi kalau benda tersebut hanya dianggap sebagai barang rongsokan belaka.

"Tapi ketika singgah di museum, maka akan timbul pendapat berbeda bahwa barang yang dianggap rongsokan itu ternyata bernilai tinggi karena milik mereka yang berprestasi pada masa lalu," katanya menambahkan.

Sementara itu Ketua Asosiasi Museum DKI Jakarta Joko Budiono mengingatkan agar pembangunan museum olahraga khusus prestasi atau cabang olahraga Olimpiade di Senayan tidak membuat museum olahraga di TMII menjadi terlantar, seperti yang dialami Museum Timor Timur, Museum Telekomunikasi serta Museum Minyak dan Gas Bumi.

"Saya hanya mengingatkan agar museum olahraga di TMII ini nantinya tidak menjadi anak tiri, terbengkalai karena tidak ada anggaran dan tidak ada SDM yang mengurusnya," kata Joko.

(Ram)