Sportpedia: Rocky Marciano, Petinju Kelas Berat yang Tak Pernah Kalah Sepanjang Kariernya

KETIKA muncul pertanyaan soal siapa petinju kelas berat terbaik di dunia sepanjang masa, jawaban yang muncul bisa beragam mulai dari Muhammad Ali, Mike Tyson, atau Lennox Lewis. Namun, di antara semua petinju top tersebut , Rocky Marciano jelas punya nilai lebih. 

Marciano merupakan salah satu dari sedikit petinju kulit putih yang bisa berjaya di level atas. Rekor bertandingnya begitu luar biasa. Dari 49 kali naik ring, tidak pernah sekali pun petinju berjulukan The Brockton Blockbuster itu mengalami hasil seri apalagi kekalahan!

Dia bisa melalui semua partai itu dengan kemenangan, dengan 43 di antaranya adalah kemenangan KO. Marciano merupakan juara dunia kelas berat pada 1952-1955.

Pada 17 Maret 1947, Marciano menjalani debut profesionalnya dengan nama Rocky Mack menghadapi Lee Epperson. Lantaran pertandingan ini jualah, Marciano tak diperkenankan lagi tampil di kompetisi tinju amatir.

Usia Marciano saat itu sudah menginjak 24 tahun, terlambat untuk seseorang yang terjun ke dunia tinju rofesional. Dia sempat dianggap sebelah mata karena dinilai takkan bersinar.

Akan tetapi, Marciano bisa mematahkan omongan miring tersebut. Dia memang tak memiliki kelebihan spesifik dari kemampuan, kekuatan, maupun kecepatan. Namun, Marciano bisa memanfaatkan kemampuan yang dimiliki dengan baik.

Gaya tinju Marciano sendiri terbilang komplet. Meski dikenal sebagai petinju bertipe swarmer, dia juga kadang disebut sebagai petinju slugger dan brawler.

Ketahanan fisik jelas menjadi kelebihan Marciano. Dia juga punya rahang kuat sehingga juga dijuluki Si Rahang Besi. Kelebihan itu membuat Marciano bisa menjalani laga demi laga dengan sempurna.

Kesempatan besar datang setelah Marciano menjalani 37 laga. Dalam usia 28 tahun, dia memaksa mantan juara dunia tinju kelas berat, Joe Louis, yang lebih tua sembilan tahun untuk gantung sarung tinju. Louis kalah KO pada ronde kedelapan pada laga di Madison Square Garden New York, 26 Oktober 1951.

Setelah menang atas Louis, Marciano melakoni empat duel lagi untuk bisa menantang juara dunia kelas berat. Kesempatan itu terjadi pada 23 September 1952. Dia menantang petinju Amerika Serikat lain, Jersey Joe Walcott.

Marciano pun berhasil merebut sabuk juara dunia. Dia bisa menjatuhkan lawannya pada ronde ke-13, dari partai yang dijadwalkan 15 ronde itu. Duel ini lantas didaulat seagai Pertarungan Terbaik Tahun 1952.

Setelah itu, Marciano sukses menjalani enam pertarungan memperebutkan gelar, terakhir melawan Archie Moore (21 September 1955). Pada laga ini, Marciano memenangi pertarungan pada ronde kesembilan.

Enam bulan berselang, tepatnya pada 27 April 1956, Marciano memutuskan pensiun dalam usia 32 tahun. Rekornya begitu sempurna, 49 kali menang tanpa sekali pun menderita kekalahan!

Sejumlah desas-desus menyebutkan Marciano ingin lebih dekat dengan keluarganya sebagai alasan pensiun. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa dia mundur karena kecewa cuma kebagian 50 persen dari uang pertarungan.

Nahasnya, pada suatu malam menjelang ulang tahun ke 46-nya, Marciano mengalami kecelakaan pesawat di Iowa. Pesawat tersebut mendarat di luar jalur lintasan dan menabrak pohon. Marciano pun tewas jelang usia ke-46 tahun.

Dunia tinju berduka karena salah seorang petinju terbaik berdasarkan para sejarawan telah meninggal dunia. Namun, nama Marciano tetap harum. Salah satunya menjadiinspirasi dalam pembuatan film fiksi Rocky Balboa yang diperankan Sylvester Stallone.

Seperti halnya Marciano, Balboa merupakan petinju kulit putih yang mencoba mendobrak dominasi. Bukan sebuah kebetulan nama depan mereka identik, yakni Rocky.

(rul)