Sedang Regenerasi, China Minim Gelar di Bulu Tangkis

Zhang Nan/Zhao Yunlei (Foto: AFP)

Zhang Nan/Zhao Yunlei (Foto: AFP)

CHINA adalah kekuatan terbesar di ajang bulu tangkis dunia. Negeri Tirai Bambu itu tak jarang menyumbangkan pemain andalannya di partai puncak turnamen bertaraf super series hingga ajang bergengsi dunia seperti olimpiade.

Namun, saat ini skuad Li Yongbo itu sedikit limbung. Bagaimana tidak? Saat Olimpiade Rio 2016 digelar, China hanya menyumbangkan dua pemainnya di partai puncak dengan menempatkan Chen Long di sektor tunggal putra dan Fu Haifeng/Zhang Nan di nomor ganda putra. Beruntung keduanya mampu menyapu bersih dua medali emas.

Bagi China, dua medali di olimpiade tidak berarti apa-apa. Sebab, di Olimpiade London 2012, Negeri Panda menyabet semua medali emas di cabang olahraga bulu tangkis.

Namun, 2016 mungkin bukan tahun terbaik bagi China. Mereka juga kering gelar saat ajang China Open 2016 yang digelar di rumahnya sendiri. Sempat menempatkan tiga wakilnya di partai puncak, mereka tidak merebut satu pun gelar juara. Ini tentu menjadi cambuk bagi tim yang sempat menjuarai Piala Thomas dan Uber 2014 itu.

Kegagalan China tak berhenti di situ. Satu minggu berselang, mereka juga pulang dengan tangan hampa saat ajang Hong Kong Open 2016. Lebih buruknya lagi, China hanya menempatkan satu pemainnya di partai puncak melalui ganda putri Huang Dongping/Li Yinhui. Tapi, mereka harus dikalahkan wakil Denmark, Kamila Rytter Juhl/Christinna Pedersen.

Kegagalan China bukannya tanpa usaha. Mereka merelakan dua gelar di ajang super series itu untuk mencoba racikan barunya. China tengah mempersiapkan pebulu tangkis mudanya untuk menggantikan para atlet senior. Tinggal kita lihat saja bagaimana kekuatan baru Negeri Tirai Bambu tersebut dengan skuad mudanya.

(fmh)