Indonesia Harus Belajar dari Singapura

GP F1 Singapura. (Foto: Reuters/Edgar Su)

GP F1 Singapura. (Foto: Reuters/Edgar Su)

MARINA BAY – Tidak mudah dan murah untuk bisa menggelar ajang besar seperti balap Formula1 (F1). Tapi Singapura sanggup menjawab tantangan dan tentunya memenuhi standar ketat dari FIA – otoritas F1. 

Singapura jadi salah satu negara selain Malaysia, yang hingga kini masih punya kebangaan soal gelaran F1 sejak 2008 lalu. Lantas bagaimana dengan Indonesia yang notabene saudara tua Singapura dan Malaysia? 

Untuk saat ini ajang balapan populer itu belum pernah merambah Indonesia. Sirkuit Sentul di Kabupaten Bogor sebenarnya pernah mendapat kehormatan masuk kalender MotoGP pada 1996 dan 1997 silam. Tapi setelah itu, tidak ada lagi penyelenggara balapan internasional yang menengok Indonesia. 

Lalu bagaimana dengan balap F1? Untuk sementara ini, Indonesia belum memenuhi standar. Apalagi kalau bicara soal infrastruktur di mana Malaysia dan Singapura lebih baik. 

Saat Okezone berbincang dengan perwakilan GP Singapura, Fiona Smith, ia memberikan saran bagaimana posisi pemerintah jika mau mengangkat nama Indonesia lewat balap F1. 

“Anda harus punya dukungan penuh dari pemerintah. Kalau pemerintah tak aktif bergerak, akan sulit untuk bisa membawa F1 ke Indonesia,” ujar Assistant Director Media & Communication GP Singapore PTE. LTD tersebut.

Balap F1 sebenarnya bukan cuma soal adu kencang mobil-mobil berteknologi tinggi, banyak hal baik yang akan diperoleh Indonesia dan masyarakatnya. Seperti Singapura yang mendapat efek positif seperti grafik pariwisata meningkat pesat dan tentunya berdampak sangat baik terhadap perekonomian – walau tak disebutkan secara detil soal angka peningkatannya. 

“Ya, GP Singapura sangat berperan besar secara signifikan untuk meningkatkan pelancong datang ke sini. Begitupun dengan perekonomian negara. Ambil contoh singkat, hotel-hotel di sini hampir semua pasti penuh ketika F1 dan mereka tentu pasang harga dua atau tiga kali lipat dari biasanya,” ungkapnya lagi.

(FAP)