Fasilitas Lengkap, Pebulutangkis Indonesia Mestinya Lebih Semangat

Christian Hadinata, Hariyanto Arbi, Susi Susanti (kedua dari kanan). (Foto: Okezone/Firdaus Kresna Putra)

Christian Hadinata, Hariyanto Arbi, Susi Susanti (kedua dari kanan). (Foto: Okezone/Firdaus Kresna Putra)

JAKARTA - Tim beregu putra dan putri bulutangkis Indonesia mendapatkan hasil mengecewakan di Asian Games 2014. Tim beregu putri dihentikan Jepang di babak perempatfinal dengan kedudukan 0-3, Sabtu (20/9/2014) lalu. Sedangkan tim beregu putra menyerah 1-3 dari Taiwan di babak yang yang sama, Minggu (21/9/2014).

Dengan hasil tersebut, target Indonesia bisa merebut minimal medali perak dari beregu putra dan medali perunggu dari beregu putri kandas.

Kegagalan Indonesia di nomor beregu cabang bulutangkis di Asian Games 2014 sebenarnya bisa diantisipasi jika para pemain menunjukan semangat, kegigihan dan kesabaran saat bertanding. Seperti tim putri yang terlalu tergesa-gesa mengejar angka ketika melawan Jepang. Padahal tim beregu Negeri Sakura terkenal ngotot dan pantang menyerah, meski sebenarnya dari segi teknik mereka sedikit di bawah Indonesia.

Begitupula tim putra yang kurang bisa bermain taktis. Absennya Simon Santoso diakui mempengaruhi kekuatan tim, namun mentalitas pemain mesti dianalisis lebih dalam. Beban dan tekanan tentu ada dalam setiap laga internasional, tapi terbiasa menghadapi tekanan justru menjadi kekuatan sendiri dalam olahraga.

Melihat kondisi bulutangkis Indonesia di Asian Games 2014, legenda hidup Susi Susanti lebih menitikberatkan kepada semangat juang para pemain.

"Semestinya mereka bisa tampil lebih semangat yah, lebih fight. Karena kan fasilitas yang disediakan saat ini jauh lebih lengkap daripada di zaman saya," jelasnya saat dihubungi Okezone.

Semangat bisa dipupuk oleh pelatih maupun pengurus. Namun setiap atlet juga mesti memiliki sikap positif dan jiwa pantang menyerah setiap latihan dan bertanding.

Peraih medali emas Olimpiade 1992 itu mendorong PB PBSI, pemerintah dan masyarakat luas untuk sama-sama bekerja keras membangun bulutangkis agar bisa kembali disegani lawan.

(FAP)