Pembawa Obor Olimpiade Jadi Pekerja Serabutan

Ethel Hudzon. (Foto: Okezone/Anang Fajar Irawan)

Ethel Hudzon. (Foto: Okezone/Anang Fajar Irawan)

JAKARTA - Pendeklarasian Komnas API (Komisi Nasional Atlet dan Pelatih Indonesia), Selasa (9/9/2014), dihadiri beberapa mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan Indonesia di panggung dunia.

Komnas API adalah badan independen yang bertujuan ingin memperjuangkan hidup para mantan atlet dan pelatih Indonesia dari semua cabang olahraga untuk bisa mendapat perhatian dari pemerintah.   

Okezone, mewawancarai Ethel Hudzon, pria paruh baya yang juga mantan atlet marathon periode 1981 hingga 1997 di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Selasa (9/9/2014). Berbicara prestasi, dia bisa dikatakan atlet kelas dunia pada masanya. Dia adalah peraih medali perak SEA Games untuk cabang marathon serta mewakili Indonesia di Olimpiade 1996 Atlanta. Ethel malah menjadi salah satu orang yang ikut membawa obor Olimpiade ketika itu.

Tapi saat ditanya bagaimana kehidupannya saat ini, keadaan berbalik 180 derajat. Kini dia tak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan.

"Sekarang saya enggak kerja, paling kalau lagi ada yang meminta bantuan, ya saya kerjakan. Di dekat tempat saya tinggal, ada pelatnas lari, saya suka diminta membantu. Tapi kan kalau seperti itu, sebulan dua bulan saja, habis itu udah enggak dipakai lagi," kata Ethel.

"Jadi saya sekarang bantu-bantu istri saja jualan kue, saya bantu keliling ke pasar," lanjutnya.  

Yang lebih memilukan lagi, sejak memutuskan pensiun, dia sama sekali tidak pernah merasakan kepedulian dari pemerintah. Jangankan untuk menanggung beban hidup, bantuan sekalipun tak pernah dirasakannya.   

Namun dengan dibentuknya Komnas API, dia berharap menjadi ada lembaga yang bisa memperjuangkan nasib mereka. Ethel berharap, pemerintah bisa lebih peduli akan kesehatan dan pendidikan anak-anaknya.

"Saya harap dengan API, penghargaan diberikan secara adil, tidak hanya untuk peraih emas, tapi perak dan perunggu juga," cetusnya.

"Kesehatan dan pendidikan menjadi hal terpenting yang harus diperhatikan pemerintah, bagaimana pun saya punya istri yang harus terus saya hidupi dan anak yang memerlukan pendidikan layak," sambungnya.

Di akhir wawancara, dia mengisahkan pengalamannya yang sangat dia banggakan, yakni saat terpilih sebagai pembawa obor Olimpiade 1996. Baginya, itu pengalaman yang tak bisa dibeli dengan apapun.

(FAP)