Tak Perlu Mencari Kambing Hitam

Para pemenang di sektor tunggal putra di kejuaraan BWF World Championship 2014. (Foto: Badmintonindonesia.org)

Para pemenang di sektor tunggal putra di kejuaraan BWF World Championship 2014. (Foto: Badmintonindonesia.org)

Tim badminton Indonesia harus puas dengan hanya membawa pulang medali perunggu di kejuaraan bergengsi BWF World Championship 2014 di Kopenhagen-Denmark, lewat sektor tunggal putra, Tommy Sugiarto.

Anak dari legenda Icuk Sugiarto itu gagal menembus partai final lantaran takluk di tangan unggulan China Chen Long lewat straight game 16-21 dan 20-22. Chen Long sendiri akhirnya menahbiskan diri sebagai juara usai mempermalukan tunggal putra terbaik dunia, Lee Chong Wei juga lewat dua set 21-19 dan 21-19.

Terlepas dari hasil kurang memuaskan ini, Tommy tetap mendapat pujian dari sang lawan, Chen Long. Pebulutangkis asal China berusia 25 tahun itu memuji kegigihan Tommy yang sempat terpeselet saat kedudukan 17-17 di game kedua.

“Di game kedua, Tommy sepertinya mengalami cedera. Tetapi semangatnya sangat kuat, dia tetap melanjutkan perjuangannya. Tommy merupakan pemain yang kuat, kami bermain lebih dari satu jam,” ungkap Chen Long saat itu, seperti dilansir BadmintonIndonesia.org.

Evaluasi Jelang Asian Games Incheon

Menilik hasil yang diraih para putra-putri Indonesia di negeri Skandinavia, ada banyak evaluasi yang harus dilakukan. Terlebih Tim Merah-Putih akan kembali berlaga di panggung yang juga tak kalah bergengsi, Asian Games di Incheon-Korea Selatan, 19 September-4 Oktober mendatang.

Raihan medali tahun ini juga dapat dikatakan menurun jika dibandingkan dengan gelaran sebelumnya di Guangzhou-China. Di mana Indonesia sukses menggondol dua medali emas lewat sektor ganda campuran dan ganda putra.

Memang di tahun ini Indonesia tidak diwakilkan dengan para pemain terbaik, sebut saja Simon Santoso, dan dua pasangan yang langganan menyumbang medali untuk Ibu Pertiwi, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan pasangan Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad.

Akan tetapi, absennya para pemain andalan tak dapat dijadikan sebagai alasan. Justru ini menjadi pembuktian para pemain lain menunjukkan kebolehan dan tentu saja menjaga nama baik Indonesia di kancah olahraga tepok bulu.

Yang paling mencolok tentu saja para Srikandi Indonesia yang hingga saat ini belum dapat memberi kejutan. Padahal, Indonesia pernah berjaya di sektor ganda putri lewat Minarni Soedaryanto/Retno Kustiyah.

Adapula Verawaty Fajrin yang pernah dipasangkan dengan Imelda Wigoena, Ivanna Lie, dan Yanti Kusmiati. Sederet medali saat itu berhasil disumbangkan oleh para Srikandi Tanah Air dan lagu Indonesia Raya dengan gagah berkumandang di penjuru dunia.

Sementara di sektor tunggal putri, ada nama Susi Susanti, Mia Audina yang kini menjadi warga negara Belanda usai menikahi Tylio Arlo Lobman, seorang penyanyi asal Suriname berkebangsaan Belanda, dan sederet nama lain yang tak kalah membanggakan.

Sudah waktunya berbenah! Indonesia wajib mencontoh Negeri Tirai Bambu yang seolah tak pernah kehabisan pemain bertalenta. Atau mungkin India yang memiliki Shaina Nehwal –pemain dengan liukan anggun di atas lapangan berukuran 13,40 m x 6x10 m dan pemain yang telah tiga kali meraih medali emas di Istora Senayan, yakni pada 2009, 2010, dan 2012.

Tak perlu malu pula untuk belajar dari Spanyol -negara yang berhasil mengirim tunggal putrinya Carolina Marín ke partai final. Si cantik asal Andalusia ini bahkan sukses mengejutkan dunia dengan mempermalukan juara Olimpiade asal China, Li Xuerui via rubber set, 17-21, 21-17 dan 21-18.

Carolina Marin (kedua dari kanan) sabet gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia BWF 2014 (Foto: Liselotte Sabroe/REUTERS)

Kini tak perlu mencari kambing hitam dari hasil kurang memuaskan yang diraih Indonesia di Denmark. Semua pihak wajib melakukan evaluasi, demi tercapai mimpi, mengembalikan superioritas, dan menjadikan Indonesia sebagai negara terkuat di sektor ini.

Semoga Asian Games di Incheon dapat menjadi ajang balas dendam. Selamat bertarung para putra-putri bangsa, terus ukir indah sejarah demi Indonesia. Ingat, negeri ini pernah memiliki sederet nama yang sukses menggetarkan dunia, sebut saja Rudi Hartono, Christian Hadinata, Atik Jauhari, Liem Swie King, Lius Pongoh, Susi Susanti, Ricky Subagdja, Mainaky bersaudara, Taufik Hidayat, dan sederet pahlawan lain.

(rin)