Srikandi Andalusia Merajut Sejarah

Carolina Marin (kedua dari kanan) sabet gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia BWF 2014 (Foto: Liselotte Sabroe/REUTERS)

Carolina Marin (kedua dari kanan) sabet gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia BWF 2014 (Foto: Liselotte Sabroe/REUTERS)

KØBENHAVN – Gelar Kejuaraan Dunia BWF tak lagi hanya milik China, Malaysia, Denmark, apalagi Indonesia. Peta kekuatan bulutangkis dunia kini perlahan mulai bergeser ke benua biru dan lebih lagi yang jadi kejutan adalah keluarnya Carolina Marín sebagai juara dunia baru.

 

Srikandi asal Spanyol ini bikin publik bulutangkis dunia terbelalak matanya. Sang juara Olimpiade, Li Xuerui asal China, dipaksa bertekuk lutut via rubber set, 17-21, 21-17 dan 21-18, pada partai final, Minggu (31/8/2014) malam tadi.

 

Padahal sejak set kedua, Marín sempat mengalami masalah pada engkel kanannya dan nyaris menyerah. Namun hasil akhir berkata lain. Pebulutangkis kelahiran Huelva, Andalucía 21 tahun lalu itu masih punya nafas untuk bangkit.

 

Seketika overhead smash-nya menutup match point, Marín langsung melepas emosinya sembari terbaring di tengah bidang lapangan. Haru-biru terkuak kala lagu kebangsaan Spanyol, “Marcha Real”, berkumandang di Ballerup Arena, København, Denmark.

 

“Saya benar-benar tak bisa berkata apa-apa karena (capaian juara) ini begitu fantastis. Saya tidak gugup menjalani final. Saya hanya bertekad untuk fight sampai akhir,” cetus Marín singkat, seperti disitat Marca, Senin (1/9/2014).

 

Gelar dunia yang direbut Marín ini juga mencuatkan bukti bahwa Spanyol, tak hanya produktif mencetak atlet-atlet jempolan di lapangan sepakbola, tenis, arena MotoGP maupun pacuan jet darat F1.

 

Marín sedianya bukan pebulutangkis sembarangan. Sebelumnya – juga di tahun ini, Marín membawa pulang gelar Eropa di sektor tunggal putri.

 

Marín juga kembali merajut sejarah dalam kariernya, sebagai pebulutangkis Spanyol pertama yang pernah mengalungi medali emas di level yunior Eropa 2009 lalu, serta memenangi London GP Gold 2013 silam.

(raw)