Lesu di Kandang Sendiri, PBSI Wajib Lakukan Evaluasi

Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan (Foto: Heru/Okezone)

Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan (Foto: Heru/Okezone)

PERUBAHAN dan evaluasi jelas menjadi agenda yang paling mendesak jika ingin melihat olahraga yang kerap kali mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional kembali berjaya. Setelah kembali nihil prestasi ditunjukan oleh atlet-atlet bulutangkis andalan Indonesia kala mereka ambil bagian di Indonesia Open 2014.

 

PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) selaku organisasi induk cabang olahraga ini memang memasang target untuk meraih hasil yang lebih baik dibanding tahun lalu. Dua gelar pun mereka canangkan akan direngkuh anak-anak Cipayung. Namun, apa daya dua gelar yang diharapkan datang dari pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan raib begitu saja.

 

Bisa dibilang apa yang terjadi di Istora Senayan pada periode 17-22 Juni 2014 sebagai sebuah kemunduran prestasi, jika kita menilik apa yang terjadi di turnamen yang sama tahun lalu. Kala itu pasangan ganda putra Hendra/Ahsan berhasil memberikan sebuah gelar kepada Indonesia selaku tuan rumah.

 

Terlalu bergantung dan minimnya regenerasi pemain muda, menjadi akar permasalahan bulutangkis Indonesia saat ini. Belum lagi sistem pembinaan yang hingga kini belum dapat dipetik buah dari program yang disusun tim kepelatihan. Mungkin, sudah saatnya perubahan materi pembinaan diberikan kepada atlet-atlet muda berbakat Tanah Air.

 

Regenerasi adalah hal yang utama dan mendesak, hal tersebut terlihat kala para atlet pelapis kedua ganda andalan tersebut tidak dapat memberikan banyak perlawanan. Praktis langkah mereka hanya memijaki babak 16 besar.

 

Kurangnya jam terbang bagi para pebulutangkis muda Tanah Air juga menjadi masalah, mereka yang memiliki potensi jarang sekali diberikan kesempatan bermain di kompetisi level tertinggi. PBSI harus lebih berani mengikutsertakan pemain seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo.

 

Meskipun usianya masih 19 tahun, Kevin tak canggung kala berpasangan dengan Selvanus Geh di ganda putra. Mereka berdua berhasil mencapai babak 16 besar sebelum dikalahkan oleh ganda unggulan kelima asal Taiwan, Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin, 21-23, 19-21.

 

Kevin pun berhasil membuat kejutan di ganda campuran, berpasangan dengan Greysia Polii pasangan juara Olimpiade 2012 asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei pun mereka taklukkan dengan skor 15-21, 21-18, 23-21.

 

Sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rexy Maniaky mengaku dirinya akan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari kinerja pelatih hingga program latihan di Pelatnas Cipayung.

 

"Terus terang saja kita memang gagal. Tahun lalu kita dapat satu gelar dan sekarang tidak ada gelar. Ini akan menjadi bahan evaluasi, perlu diingat juga kalau lawan sekarang sudah membaca kekuatan kami, dari segi permainan harus ada yang diubah," kata Rexy di stadion Istora Senayan.

"Selama ini program latihan yang berjalan hanya itu-itu terus. Kami akan duduk bersama tim pelatih dan memperbarui program latihan. Kami akan memberi kesempatan lebih kepada pemain muda, toh pencapaian atlet potensi dan prestasi di turnamen ini sama saja, sampai di babak kedua juga. Namun pengiriman pemain muda harus sesuai kemampuan mereka, bukan sembarang kirim saja," tambahnya.

Menurutnya performa para atlet di Indonesia Open tahun ini bisa dibilang kasat mata, manajer tim, Ricky Soebagdja pun mengamini hal tersebut.

"Jelas sekali target tidak tercapai, kami minta maaf karena belum bisa memenuhi target ini. Evaluasi pasti ada, minggu depan kami akan bertemu tim pelatih dan membicarakan kemana arah selanjutnya. Tentunya kami tak mau cuma berpartisipasi saja di turnamen, tapi juga harus berprestasi," tucap Ricky.

 

Sebagai tambahan, saat partai final ganda campuran berlangsung antara pasangan dari Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen bertanding melawan pasangan China Xu Chen/Ma Jin, para suporter Indonesia yang hadir memberikan dukungan kepada pasangan asal Denmark.

 

Bertanding di Negeri sendiri, namun para penikmat olahraga bulutangkis lokal justru tidak dapat melihat atlet-atlet kebanggaan mereka meraup prestasi di Tanah Air. Semoga akan ada perubah dan perbaikan baik dari regenerasi, program pembinaan dan prestasi. Ujungnya pun kita semua ingin melihat bulutangkis Indonesia kembali mendominasi cabang olahraga ini.

(hmr)