Pilih Badminton Gara-Gara Gagal di Sepakbola

Filipe Toledo. (Foto: ist)

Filipe Toledo. (Foto: ist)

JAKARTA – Apa yang ada di benak Anda ketika tiga negara ini, Brasil, Belanda, dan Prancis dikaitkan dengan olahraga? Tentu saja mayoritas dari Anda akan berasumsi sepakbola. Tak keliru, mengingat ketiga negara tersebut memiliki sejarah sepakbola yang panjang nan mengagumkan.

Brasil, tak ada yang meragukan kapasitas mereka dalam mengolah si kulit bundar. Sederet legenda dan bintang dunia saat ini tercipta dari negara yang berada di bagian selatan Benua Amerika itu.

Sukses tersebut dibuktikan Tim Samba dengan mengangkat lima kali trofi Piala Dunia, yakni pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Cile, tahun 1970 di Meksiko, tahun 1994 di Amerika Serikat, dan terakhir terjadi di Piala Dunia Korea Selatan-Jepang tahun 2002 silam usai mengalahkan Jerman dengan skor  0-2.

Selain itu, Brasil yang kini ditukangi Luiz Felipe Scolari juga belum pernah absen di turnamen empat tahunan tersebut. Dan pada tahun ini, Brasil didaulat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 yang akan dilangsungkan Juni mendatang.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai negara yang rajin melahirkan bintang lapangan hijau dan menariknya para pemain tersebut menjadi andalan di klub masing-masing, sebut saja Neymar da Silva di Barcelona, Thiago Silva di Paris Saint-Germain, Fernandinho di Manchester City, Rafael di Manchester United, dan sederet nama lain.

Sepakbola seolah menjadi ruh dalam diri setiap masyarakat Brasil. Tak terbantahkan, Brasil merupakan yang terbaik di dunia. Lantas bagaimana dengan sektor olahraga lain? Badminton misalnya?

Mungkin belum ada cerita panjang mengenai Badminton di tanah Samba. Namun, siapa sangka kini hadir seorang pemain badminton berbakat yang siap menggebrak, ialah Filipe Toledo. Berikut petikan wawancaranya dengan Okezone.

(Foto: Facebook)

Bagaimana Anda mengenal badminton? Siapa yang memperkenalkan olahraga ini kepada Anda?

Saya mulai bermain badminton karena kecewa di sepakbola. Saya sempat bermain sepakbola di sebuah klub di kota saya. Namun, saya mengalami masalah dengan pelatih dan sejak saat itulah saya mulai menggeluti olahraga lain.

Pada dasarnya saya ingin bermain olahraga secara individu, di mana kerja keras saya dapat dihargai. Saya lelah dengan masalah yang ada, beruntungnya di klub saya ada badminton dan saya langsung cinta. Saya mulai bermain, dan saya tahu itulah yang saya inginkan sepanjang hidup.

Apakah Anda menemukan kendala dengan pilihan Anda sejauh ini?

Saya menemukan banyak kesulitan sepanjang perjalanan karier baru saya. Memainkan olahraga yang tidak tidak cukup popular di sini (seperti Anda tahu bahwa di Amerika, sepakbola adalah segalanya), berarti sebuah perjuangan tanpa dukungan apa pun.

Tidak ada dukungan pemerintah, federasi atau pun perusahaan. Itu semua tergantung pada Anda. Jadi selama bertahun-tahun ini, semua berjalan sulit. Anda harus berjuang melawan segala masalah.

Namun, entah mengapa hal tersebut justru membuat saya kian tangguh. Saya tetap yakin bahwa ini semua apa yang ingin saya lakukan. Terkadang saya berpikir, berhenti adalah solusi tepat. Tetapi sekarang, saya jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Siapa teladan Anda di Brasil?

Well, saya mencoba untuk mencontoh pelatih lama saya, Paulo Fam. Dia pelatih sekaligus mentor pertama saya. Pemain badminton pertama di Brasil dan dia masih bermain di usianya yang tua. Dia pria hebat yang menjadi panutan saya.

Tanggapan orangtua, keluarga, dan teman ketika memutuskan jadi atlet badminton?

Ayah saya mencintai badminton sama seperti saya. Apabila dia mengenal olahraga ini lebih awal, mungkin dia juga akan menjadi atlet badminton. Dia mendukung saya 100 persen, begitu juga dengan ibu. Saya beruntung memiliki orang tua dan keluarga yang mencintai olahraga.

(Foto: Facebook)

Bagaimana negara Anda menyediakan fasilitas dan dana untuk ikut turnamen?

Negara saya memiliki beberapa masalah dengan fasilitas. Klub juga belum memiliki fasilitas dengan baik, tetapi yang terpenting adalah kami sudah memiliki lapangan latihan.

Mengenai masalah dana, pada dasarnya saya bekerja paruh waktu sebagai pelatih di klub dan  memiliki bantuan dari pemerintah (pemerintah Brasil membayar semua atlet yang memiliki catatan prestasi yang baik berupa gaji pokok selama satu tahun). Jadi saya menyimpan sebagian gaji saya untuk mengikuti turnamen.

Perjuangan Anda untuk meyakinkan sponsor?

Di Brasil ini merupakan misi yang mustahil. Saya telah mencoba mengajukan proposal kepada beberapa sponsor, namun mereka tidak tertarik untuk olahraga atau atlet yang mereka anggap tidak familiar.

Tanggapan Anda usai menghadapi pemain dari Asia? Terutama Indonesia dan China?

Menghadapi pemain dari Indonesia dan China merupakan pertandingan yang luar biasa dan kepuasan tersendiri bagi saya. Saya benar-benar mencoba untuk mengawasi setiap langkah mereka, dari pemanasan hingga mereka meninggalkan laga tersebut.

Menghadapi mereka juga merupakan kesempatan besar, sama seperti saat Timnas Indonesia atau China menghadapi Timnas Brasil. Saya percaya, saya banyak belajar saat menghadapi mereka.

Dari sudut pandang Anda, mengapa China masih mendominasi?

China memiliki dua alasan. Mereka benar-benar bekerja keras saat latihan, sepertinya hampir tidak mungkin untuk beristirahat. Karena alasan itu, mereka memiliki skill dan penampilan yang luar biasa dan siap menghadapi berbagai pertandingan.

Kedua, Anda pernah mendengar sebuah kata bijak ‘untuk menemukan seorang juara, Anda harus mencarinya di jutaan banyak orang?’ Well, populasi mereka lebih dari satu juta orang! Hehehe.. seharusnya lebih mudah untuk menemukan satu pemain top. Seperti Brasil yang memiliki 2000 pesepakbola dan ada 10 pemain top!

Terakhir, Apa yang akan Anda lakukan usai pensiun?

Saya lulusan dari jurusan olahraga di salah universitas. Saya berencana menjadi pelatih badminton, ketika saya mengakhiri pertarungan saya. Sejauh ini, saya telah menghadapi banyak hal dan semoga saya dapat melaluinya dan menjadikan diri saya sebagai juara. Atau setidaknya dapat menjadi teladan bagi pemain lain.

(rin)