Dan, Sang Naga pun Tidur Lelap

Yohannes Christian

Yohannes Christian "Chris" John (tengah) (Foto: Heru Haryono/Okezone)

SETIAP petarung punya wujud “monster” yang tak kasat mata ketika memang tengah bernafsu untuk adu otot di atas ring. Sifat “monster” itulah yang biasanya menguasai tubuh dan pikiran untuk ‘ngotot’ tak mau kalah dari sang lawan hingga dentang bel menandakan kemenangan.

 

Meski begitu ketika wujud “monster” itu tak lagi menaungi, hasrat serta gairah takkan bisa lagi menopang tubuh bak steroid alami guna menahan gempuran pukulan lawan dan memberi perlawanan balik. Ketika tubuh tak lagi menyiratkan kemampuan, tentu putusan yang mesti diambil adalah tutup karier.

 

Jika tidak, fatal akibatnya. Entah sudah berapa petinju dunia yang dipaksa gantung sarung tinju dengan kondisi cedera maupun cacat permanen, baik fisik maupun mental. Hal ‘begini’ yang ingin dihindari Sang Naga – Chris John.

 

Tak diragukan dunia tinju nasional khususnya dan segenap masyarakat Indonesia pada umumnya bakal merindukan sosok yang satu ini. Tanpa melupakan prestasi para pendahulunya yang go-international lebih dulu macam Ellyas Pical, Nico Thomas dan M. Rachman, Chris John bisa dikatakan petinju Indonesia yang paling mentereng catatan kariernya.

 

Betapa tidak, selain capaian 10 tahun mempertahankan gelar dunianya, WBA menganugerahinya dengan status “Fighter of the Decade”, 2009 lalu usai melangsungkan dua partai mempertahankan gelar kontra Rocky Juarez.

 

Dunia mengenalnya dengan “sungguh-sungguh” ketika Juan Manuel Márquez mesti mengakui keunggulan The Dragon 2006 silam. Padahal Chris John sudah memegang gelar WBA kelas bulu sejak menang via split-decision kontra Oscar León, tiga tahun sebelumnya.

 

Sudah 17 lawan mencoba merebut gelarnya itu tapi tak satupun mampu pulang dengan sukacita. Tapi memasuki usia 35 tahun, tubuh Chris memaksa “monster Naga” itu bersikap bijak dan “tidur” selamanya. Keputusan pensiun pun tiba hari ini, Kamis 19 Desember, setelah mengakui kondisi fisiknya tak lagi prima seperti dulu.

 

Pernyataannya untuk tutup karier juga tak lepas dari kenyataan di mana Chris, gagal menyamai rekor legenda Rocky Marciano dengan 49 kemenangan beruntunnya. Rekor 48 kemenangan Chris disetop Simpiwe Vetyeka awal bulan lalu lantaran kalah TKO di ronde keenam.

 

Andai Chris saat itu menang, bakal lain ceritanya,: “Ya kalau saat melawan Vetyeka saya menang, mungkin saya masih akan terus bertinju,” ujarnya singkat.

 

“Tapi setelah kekalahan itu, saya merasa kondisi fisik saya sudah tak lagi seperti dulu. Keputusan ini saya ambil sendiri, tanpa ada tekanan dari mana pun,” lanjut Chris John.

 

Sang Naga sudah takkan lagi mengharumkan nama Indonesia di belantara tinju dunia. Namun Chris mengaku punya harapan besar terhadap juniornya, Daud Yordan yang pada saat bersamaan kala Chris John kalah dari Vetyeka, “Cino” mempertahankan gelar IBO kelas ringan dari petinju Afrika Selatan lainnya, Sipho Taliwe.

 

“Ke depannya, saya berharap bisa tetap sumbang tenaga buat tinju Indonesia. Untuk saat ini, saya juga berharap Daud Yordan bisa meneruskan perjuangan (mengharumkan nama Indonesia di gelaran tinju dunia),” tambahnya.

 

Lantas bagaimana kehidupan Chris selepas menutup karier profesionalnya? Sang legenda baru Indonesia ini pun mengaku belum tahu bakal tetap di jalur tinju atau tidak. Yang pasti, Chris ingin melepas penat dengan pelesiran dan menambah keturunan dengan sang istri, Anna Maria Megawati yang sejauh ini, sudah punya dua buah hati, Maria “Dragon Fay” Luna Ferisha dan Maria Rossa Christiani.

 

“Ke depannya, Chris ingin bikin biografi. Dia butuh wadah untuk menuangkan kenang-kenangannya tentang perjalanan kariernya. Tapi sebelumnya kami akan berperjalanan dulu ke Vietnam, Jepang dan China. Karena kemarin-kemarin, kami belum sempat menikmati hasil kerja kerasnya,” timpal sang istri yang juga mantan atlet wushu itu.

 

“Kami juga ingin membuat program bayi kembar. Chris inginnya ‘cowok’ karena sebelumnya kan dua anak kita ‘cewek’. Tapi kalau ‘cowok’, sepertinya nanti mirip saya,” lanjut Anna diselingi tawa.

 

Bicara soal wushu yang pernah digeluti sang istri, Chris ternyata juga punya pengalaman dengan olahraga beladiri asal Tiongkok ini. Sebelum “menceburkan” diri secara fokus ke dunia tinju, anak keempat dari pasangan Johan Tjahjadi dan Maria Warsini ini sudah punya rentetan medali.

 

Sejak 1996 hingga 2001, Chris mengoleksi empat medali, masing-masing emas di kejuaraan nasional dan PON XIV 1996, sekeping emas lagi dari ajang SEA Games 1997 serta medali perunggu SEA Games 2001.

 

Patut ditunggu janji Chris yang masih ingin berkutat di seputar dunia tinju ke depannya, baik sebagai “pemoles” bibit-bibit tinju baru sebagai pelatih maupun motivator. Ringkas perpisahan, Selamat “tidur” sang Naga, takkan lekang di makan waktu sumbangan prestasimu untuk negeri ini di pentas pertarungan.

(raw)