Pelajaran Mengasah Mental

Brigita Marcelia Rumambi (kiri), Setiana Mapasa (kanan).(foto:Djarum Sirnas).

Brigita Marcelia Rumambi (kiri), Setiana Mapasa (kanan).(foto:Djarum Sirnas).

SENYUM Brigita Marcelia Rumambi dan Setiana Mapasa seketika merekah, setelah melihat bola jatuh di area belakang permainan lawan. Angka di papan skor mengunci kemenangannya, 21-16 di game ketiga. Skor itu membawa mereka mengklaim gelar juara pertama ganda putri, untuk kelompok taruna di Djarum Sirkuit Nasional Jawa Timur Open 2013.

Belum surut kegirangan kedua pemain kidal itu setelah menundukkan pasangan tuan rumah Fadilah/Meirisa Cindy Sahputri, confetti berhamburan memenuhi udara GOR Sudirman, Surabaya. Gerakan hujan kertas warna-warni itu, seperti sebuah suguhan tarian penutup Djarum Sirnas tahun ini. Kebetulan, final ganda putri kelompok taruna, merupakan partai terakhir yang digelar di hari terakhir kejuaraan, 16 November.

“Kaget juga, pas pertandingan selesai ada bunyi letusan, terus aku lihat ke atas, kertas-kertas warna-warni berterbangan. Enggak nyangka juga bisa juara,” ujar Brigita mengenang.

Brigita benar-benar lega bisa berdiri di puncak podium juara bersama pasangannya, Setiana dari klub Tangkas Specs. Sebab, di game pertama, mereka dipaksa menyerah dengan selisih skor yang cukup jauh, 12-21, sebelum akhirnya membalikkan keadaan di game kedua dan ketiga. Sebelum menuntaskan perlawan Afni/Meirisa, keduanya menembus final usai mengalahkan ganda putri unggulan pertama, Dini Fitri/Inten Ratnasari.

“ Ini Sirnas pertama aku main di kelompok taruna. Sebelumnya main di kelompok remaja.Lucunya, main di kelompok remaja malah enggak pernah juara, tapi di kelompok taruna, malah merasakan juara,” selorohnya.

Untuk usianya, Brigita yang kelahiran 15 Mei 1997, sebenarnya masih bisa memilih berkompetisi di kelompok remaja dari pada bertarung di kelompok taruna yang diikuti pemain usia di bawah 18 tahun (U-18). Tapi saat Setiana mengajaknya untuk berpartner di kelompok taruna, kesempatan berduet dengan pemain yang lebih berpengalaman itu, ia sabet.

Tak banyak persiapan dilakukan sebelum melangkah ke Surabaya, selain menambah porsi latihan fisik. Setelah Sirnas Semarang, keduanya hanya sekali berlatih, dan kemudian berjibaku dengan 16 pasangan lain di Sirnas terakhir 2013 itu. Awalnya, ia mengalami tekanan, tapi berangsur-angsur semakin menikmati permainan. Ini tak lepas dari dukungan pasangannya, Setiana, yang punya jam terbang lebih tinggi.

“Awalnya tegang karena merasa yang lain lebih besar-besar (tua.red). Pukulan mereka keras dan bolanya enggak gampang mati. Tapi lama-lama kepercayaan diriku diangkat sama partner, karena dia kan lebih pengalaman. Akhirnya terbiasa dan bisa bermain lebih lepas. Dari babak pertama sampai final, permainan berkembang,” ungkap pemain yang akrab disapa Gita ini. Partnernya, Setiana , juga turun di nomor ganda campuran taruna di Sirnas Jatim 2013, dan juga sukses menyabet gelar juara.

***

Sehari-hari, Gita yang berusia 16 tahun ini berlatih di klubnya, Exist Badminton Club, yang bermarkas di Cibinong, Bogor. Di sini ia bergabung dengan sekira 120-an remaja. Konsekuensinya, ia harus menjalani kehidupan jauh dari keluarga, karena menetap di mess yang disediakan klub.

Hari-harinya ia lewati dengan berlatih, dengan porsi dan menu latihan yang berbeda-beda. Terkadang sehari tiga kali, terkadang hanya dua kali. Materinya bisa berupa latihan teknik, gym, lari, kelincahan dan lain sebagainya.

Saat Senin misalnya, dia harus mulai berlatih pada pukul delapan, dengan menu latihan berlari yang dilakukan bertahap. Mulai dua putaran, kemudian berlari tiga putaran, hingga lima putaran.Tempatnya bisa di lapangan sepakbola atau area parkir. Tapi kadang, para atlet hanya berlari jarak jauh.

Setelah sesi itu, menu latihan teknik harus ia lahap, mulai pukul 10.00 hingga pukul 13.00. Sorenya, menu loncat palang sudah menantinya pada pukul 16.00. Setelah sekira 45 menit, berlatih loncat palang, Gita bersama teman-temannya menutup sesi latihan hari itu dengan game, hingga pukul 18.00.

Setiap hari menu latihan fisiknya memang tidak seragam. Selasa, menu paginya yaitu gym, kemudian sorenya kelincahan, atau footwork. Rabu sore, mereka baru pemulihan otot, di kolam renang, setelah paginya para atlet berlatih dalam simulasi pertandingan, mulai pukul 09.30-13.00.

Di hari berikutnya, latihan fisik diganti dengan menu ‘bayangan’, yaitu berlatih tanpa bola, mengikuti imajinasi pemain seolah-olah sedang dalam permainan. Jumat pagi, ia berlatih skipping, dan sore harinya berlatih kelincahan.

Untuk Sabtu pagi, menu fisik bisa berubah-ubah. Kadang gym, jogging atau yang lainnya.Setelah itu, klub membebaskan para atlet menikmati akhir pekan. Di hari biasa, waktu malam, kadang ia gunakan belajar pelajaran sekolah, karena ia mengikuti program home schooling, di mana ia hanya masuk sekolah hanya saat ujian.

“Kalau lagi bosan latihan, biasanya ya tetap latihan terus. Pas akhir pekan, baru pulang ke rumah, karena klub memberi libur mulai Sabtu siang, sampai Minggu. Tips anti bete (jenuh) itu  ke mal main di Timezone,” seloroh gadis berdarah Manado ini.

Gita memang sudah menjatuhkan pilihan menjadi atlet bulutangkis.Makanya, dia tak mau larut saat merasa jenuh atau ketika kecewa karena performanya tidak maksimal. Karena biasanya itu tak berlangsung lama, lantaran selain menyukai bulutangkis, dukungan keluarga dan pelatih juga bisa mengembalikan semangatnya.

“Kemauan harus keras. Latihan yang rajin, dan semangat. Karena kalau emang sudah pilih di sini (bulutangkis), ya harus sepenuhnya total di sini. Kalau sedang down, curhat sama orangtua dan pelatih. Yang penting, enggak boleh ada paksaan harus dari diri sendiri dulu,” kata Gita yang ingin menembus ke Pelatnas Cipayung itu.

Ayahnya, Freddy Rumambi memang mengarahkannya untuk menggeluti dunia olahraga. Mulanya, Gita diperkenalkan dengan tenis. Ia pun berlatih bersama kakaknya, Fredrico Rumambi, yang juga kini menjadi atlet tenis remaja. Tapi namanya anak kecil, Gita yang saat itu masih berumur 9 tahun sering bertengkar dengan kakaknya, yang usianya terpaut dua tahun.

Ia akhirnya berhenti latihan tenis.Tapi selanjutnya justru jatuh cinta dengan bulutangkis setelah diperkenalkan ayahnya, yang sering mengajaknya bermain di lapangan dekat rumahnya, di Komplek Kodamar, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Pada usia 9 tahun, ayahnya yang seorang perwira TNI-AL itu memasukan bontot dari dua bersaudara ini ke klub bulutangkis di Jakarta Utara.

Padahal, saat itu ia termasuk anak yang 'cabi-cabi'. Tapi, itu bukan hambatan. Kerja keras yang terus menerus dan dukungan orangtuanya untuk disiplin berlatih, toh membuat Gita tumbuh menjadi atlet remaja yang lincah dan tangguh.

Ia pun rajin mengikuti kejuaraan. Sebelum jadi juara di Sirnas Jatim 2013, Gita turun di ganda campuran di Kejuaran Daerah DKI 2013 dan menyabet gelar juara satu. Di enam Sirnas yang lain tahun ini, Gita dua kali masuk delapan besar, dan sekali menyabet posisi runner-up saat Sirnas Bali, di nomor ganda campuran. Ketika itu ia turun dengan partnernya, Giovani Dicky.

Nomor ganda memang menjadi spesialisasinya. Gadis penyuka warna toska ini mengakui lebih berkembang di nomor ganda, ketimbang tunggal. Itu sebabnya, dia memutuskan untuk fokus mengembangkan kemampuannya sebagai pemain ganda.

“Sebenarnya aku masih main dua. Ganda putri dan ganda campuran. Kuncinya main di nomor ini harus kompak dan enggak boleh salah-salahan sama partner. Harus saling mendukung,” katanya.“Harus bisa kerja sama dengan orang lain. Tidak boleh egois. Itu juga pelajaran dalam pergaulan,” tambah pemilik tinggi 167 Cm itu, filosofis.

Semakin banyak jam terbang dengan mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional ia akui memang membuatnya semakin banyak memetik pelajaran. Baik dari segi teknik, terutama mental. Seperti saat final di Sirnas Jatim Open 2013 itu, ketika kalah di set pertama dengan selisih skor yang besar, ia berusaha keras menjaga mental bertandingnya, agar tidak lekas menyerah dan mencoba bangkit, dan akhirnya bahu membahu dengan partnernya mendulang poin hingga keluar sebagai pemenang.