Lis, Dari Tersangkut, Setelah Itu Juara Dunia

Lis Adriana.(foto: Fitra Iskandar/okezone)

Lis Adriana.(foto: Fitra Iskandar/okezone)

Lis Adriana, pernah mendarat di tiang listrik. Di pohon pun pernah. Mendarat tepat di titik sasaran, memang pekerjaan sukar buat pilot paralayang. Kelihatannya mudah, tapi nomor ketepatan mendarat menurut Lis tak seperti dibayangkan orang.

“Terbang itu enggak semudah yang dibayangkan. Mungkin orang lihat begitu saja. Ketepatan mendarat seperti permainan anak - anak. Tapi dari semua yang dilombakan di paralayang, ketepatan mendarat, tidak mudah,” kata Lis saat berbincang dengan okezone, di Parkir Timur Senayan, akhir pekan lalu.

Tapi, berkali-kali dia juga bisa mendarat paling akurat di titik yang ditentukan, lebih baik dari pilot negara-negara lain saat mengikuti kejuaraan. Prestasi itu membuatnya sukses membawa gelar juara ke Tanah Air.

Lis jadi pemenang Kejuaraan Dunia Paralayang Ketapatan Mendarat (PGAWC) dua kali, 2012 dan 2013. Di ajang yang terakhir, perempuan asal Kutai Barat, Kalimantan Timur itu sukses membukukan namanya sebagai pilot terbaik dunia pada putaran final PGAWC di Malaysia 16 Oktober.

Medali dan trofi ia raih hasil dari enam seri yang digelar dalam kejuaraan. Dari rangkaian seri yang diikuti, Lis dua kali bertengger di posisi I, yaitu ketika seri pembuka di Painan, dan Tusnad, Rumania. Selebihnya dia menyabet posisi II di Mote Legre, Portugal, kemudian juara III di seri Vrsac, Serbia, dan peringkat III di Sabah, Malaysia. Pencapaiannya paling buruk dialami saat seri Suphanburi, Thailand. Di situ, Lis hanya berakhir di peringkat delapan.

“Tapi paling berat Portugal karena medannya untuk lintas alam. Selain itu cuacanya yang sampai 5 derajat, berat bagi aku,” katanya.

Untuk seri ini, Lis, harus menggunakan pakaian lima lapis. Tantangan cuaca ini menurutnya sudah ia antisipasi, meski sebelumnya pihak panitia mengatakan suhu udara sedang panas, namun, berdasarkan pengalamannya, ia situasinya berbeda.

“Soalnya yang namanya di luar negeri biar mereka bilang enggak dingin, tetap saja dingin. Tapi akhirnya saya lepas dua lapis, dan sarung tangan juga saya simpan karena membuat gerakan tidak nyaman,” cerita Lis.

Selain tantangan suhu ekstrem, cuaca yang kurang bersahabat juga harus ia taklukkan.Di Portugal menurutnya banyak termal, sehingga susah untuk mendarat. Padahal untuk ketepatan mendarat, setiap pilot dituntut untuk segera menginjak bumi di titik sasaran.

Perjuangan menyabet gelar juara dunia bagi Lis, memang lebih sulit kali ini. Tak seperti pada 2012, tak ada seri yang berlangsung di pantai. Seluruh arena, merupakan pegunungan. Bila arena pantai yang dipakai dalam lomba, kata Lis, tingkat kesulitannya lebih rendah karena cuaca, dan udara tidak seperti di gunung, yang kerap diliputi angin kencang dan kondisi udara termal.

Saat di putaran terakhir di Sabah Malaysia, Lis pun mengakui medannya begitu sulit, sehingga ia hanya duduk di posisi tiga pada seri tersebut, di bawah Nunnapat Phuchong, dan Jantika Chaisanuk. Keduanya dari Thailand.

Beruntung rival terdekatnya, Tamara Kostic dari Serbia, nilainya lebih jelek dan finis di posisi lima, pada seri penentuan itu. Padahal, Tamara, diakui Lis, membuatnya tegang di seri terakhir, lantaran nilai keseluruhan antara keduanya terpaut cukup dekat.

“ Cuaca di sana juga ekstrem. Sebelum mendarat ada sungai. Parasut susah dikendalikan,” tuturnya.

“Dengan teknik apapun susah mendarat. Jadi aku harus benar-benar oke. Di Malaysia, gayaku enggak bisa dipakai. Akhirnya pakai cara baru, pokoknya supaya enggak boleh telat sedikit pun. Sampai aku harus mengarahkan parasut ke bawah, orang di bawah sampai teriak, tapi aku yakin dengan kecepatanku, bisa mendarat tepat,” kisah Lis yang mengaku biasanya tidak banyak melakukan manuver.

“Sesi ke satu dan kedua, aku kalah dari Tamara. Tapi sesi 3, 4,5,6 unggul lagi dari Tamara. Aku cuma juara tiga. Makanya yang jadi juara di Malaysia itu hebat,” katanya. Beruntung, hasil itu cukup mengantarnya ke tangga juara dunia 2013.

Lis meneruskan tradisi Indonesia di pentas PGAWC. Dua tahun sebelumnya, Indonesia juga berturut-turut merajai kejuaraan dunia ini, dengan Ifa Kurniati (2010) dan Milawati Sirin (2011).

***

Toh, jauh sebelumnya, prestasi ini tak pernah ia bayangkan. Karena olahraga itu pun baru ia pelajari, justru setelah ia memiliki dua orang anak.

Tak pernah benar-benar mencintai paralayang, Lis Adriana, datar-datar saja ketika diminta ayahnya, untuk menekuni olahraga udara ini pada 2006. Saat itu, Kutai Barat membutuhkan atlet untuk diterjunkan di ajang Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur.

Sang Ayah mengirim Lis untuk berlatih dengan instruktur di Malang. Persiapan terjun di Pekan Olahraga tersebut hanya ia jalani selama enam kali terbang dalam enam pekan. Dengan persiapan singkat itu, Lis kemudian harus menghadapi atlet-atlet lebih berpengalaman.

“Ayah saya baru mengalami insiden kecil, cedera, terus saya diminta belajar paralayang. Awalnya cukup tahu saja. Lawannya gila-gila (hebat.red),” katanya.

Boleh dibilang, keterlibatannya di paralayang, mengalir begitu saja. Hingga setahun merasakan asyiknya lepas landas, melayang-layang dan mendarat, Lis merasa mantap dan memutuskan total menjadi atlet paralayang. Lis memang serius, ia tidak melakukan aktivitas lain di luar paralayangnya.

Saat dijerumuskan menjadi atlet oleh ayahnya pada 2006, Lis sebenarnya berstatus ibu rumah tangga dengan dua anak. Dilema sempat ia rasakan, ketika dipanggil pelatnas pada 2007. Namun karena dorongan suami dan keluarganya, Lis maju terus, meski konsekuensinya tiga bulan tidak pulang. Anaknya yang kedua, sempat protes, tapi berangsur-angsur sikap itu berubah, setelah ia kerap mengajak anak-anaknya ke lokasi latihan.

”Sekarang mereka malah bilang mau seperti saya,” ujar Lis yang kini punya tiga buah hati.

Mendapat dukungan keluarga, membuat Lis semakin mantap. Ia bisa setiap hari berlatih, ketika saat menghadapi kejuaraan dunia kemarin. Dia rutin ke Gunung Mas, Puncak, Bogor, untuk mengasah kemampuannya.”Setiap hari saya latihan,” katanya.

Nomor ketepatan mendarat, yang jadi spesialisasinya, kata Lis, membutuhkan jam terbang sebanyak-banyaknya. Dia meyakini, lawan yang akan ia hadapi semakin hari juga akan semakin keras berlatih, apalagi, setelah dirinya keluar sebagai juara dunia 2012.

Kemampuan Lis pun bisa lebih diuji di medan paralayang di Indonesia, karena umumnya arena paralayang di Tanah Air punya tingkat kesulitan yang tinggi. Bila di luar negeri, mungkin kendala umumnya hanya angin kencang, sementara di Indonesia, pilot juga sering menghadapi medan termal. Menurut Lis, potensi ini sangat menguntungkan bagi Indonesia.

“Makanya kalau orang-orang Eropa itu minta lomba di pantai, aku justru bilang harusnya jangan diikuti. Mereka harus coba medan kita. Setiap tempat terbang itu berbeda, jadi kita jangan kasih peluang mereka menang,” paparnya.

“Di sini (Indonesia) susah sebenarnya. Makanya kalau mereka ke sini, mereka bisa “tepar”. Tapi kalau kita ke sana kita tinggal menyesuaikan,” kata Lis yang memfavoritkan lokasi paralayang di Painan Sumatera Barat itu.

Mencoba lebih giat berlatih dari pesaing, memang membuat Lis tetap kompetitif saat mengikuti kejuaraan. Di luar itu, menurutnya, yang terpenting adalah menjaga konsentrasinya ketika menjelang dan saat lomba. Lis bercerita, ia benar-benar menghindari ganguan dari luar, sampai-sampai ponselnya ia nonaktifkan.

“Kunci kemenangan? Latihan, latihan dan latihan, juga berdoa. Saat terbang aku harus tenang. Setiap kejuaraan enggak mau dengar macam-macam masalah sedikitpun, makanya HP enggak aku aktifkan,” ujar Lis yang mengaku juga mempraktikan meditasi sederhana, dengan berdiam diri, sebelum lomba.

Tahun ini, Lis hanya tinggal sekali mengikuti lomba, di Tondano Open 8-12 November. Praktis aktivitasnya lebih longgar daripada saat kejuaraan dunia masih berlangsung, sehingga ia punya kesempatan lebih banyak berkumpul bersama keluarganya di Kutai Barat. Tapi, bukan berarti, ia benar-benar menjauh dari dunia paralayang.

Sebab, di Kutai Barat, Lis telah merintis klub Beniaq Aero Explorer, untuk mengembangkan paralayang di Kalimantan Timur. Sebelumnya, dia “membuka” lahan untuk dijadikan arena paralayang di tanah kelahirannya itu pada 2008. Tantangannya, cukup berbahaya saat pertama kali menjajal medan di kawasan yang ia sebut Gunung S. Ia harus mendarat di atas pohon.

“Itu karena saya tidak bisa mencapai lokasi pendaratan yang jauh. Dan pohon itu saya pilih karena paling aman, tingginya cuma tiga meter. Untuk mengawali memang susah. Tapi siapa lagi kalau bukan aku. Aku tahu bahaya, makanya sebelumnya, aku sudah bilang kalau tidak sampai ke pendaratan, aku ke pohon itu,” kata Lis.

Soal salah sasaran, Lis juga pernah punya pengalaman yang tak bisa ia lupakan, saat ikut pelatnas SEA Games 2011 di Turki. Ketika latihan terbang di daerah perkotaan, ia tidak bisa mendarat sempurna, dan akhirnya berakhir di tiang listrik. Untung Lis tak mengalami insiden fatal.

“Areanya lapangan-lapangan, tapi ada menara listrik. Aku kena angin kencang sampai akhirnya tersangkut. Tapi cuma 15 menit aku sudah bisa diturunkan,” kata dia. Nasibnya tersangkut di Turki, berbanding terbalik dengan prestasinya. Dengan paralayang, nama Lis justru melambung tinggi dengan gelar juara dunia dua kali di tangannya. Bravo!

Nama      : Lis Adriana

TTL          : Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur 1 April 1983

Prestasi :

1. 4 emas Asian Beach Games 2008 Bali

2. 4 emas, 2 perak SEA Games 2011

3. Juara dunia paralayang ketepatan mendarat (PGAWC) 2012,2013.

(fit)
Berita Rekomendasi Paralayang