Kala Mimpi Harus Mengalah pada Realita

Francis DeSales Ouimet (Foto: Wikimedia)

Francis DeSales Ouimet (Foto: Wikimedia)

SETIAP individu mesti punya mimpinya sendiri-sendiri. Namun kadang, kondisi realita dihadapan muka, bisa jadi penghalang besar hingga akhirnya seseorang harus memilih. Memilih antara menjalani realita bak orang-orang kebanyakan atau menembus mimpi dengan risiko masa depan yang tak jelas.

 

Francis Ouimet memilih opsi pertama. Kendati skill-nya mampu merangkul pesona banyak pihak – bahkan sampai Presiden Amerika Serikat (AS), mantan pegolf yang banyak dicintai rakyat AS itupun memupuskan asa terjun ke dunia profesional dan tetap di level amatir sebagai sambilannya untuk berbisnis.

 

Cerita tentang Ouimet sedianya bagaikan kisah-kisah dalam dongeng. Datang dari “antah-berantah” yang kemudian menjumput sukses besar saat banyak orang yang meremehkannya. Memulai perkenalannya dengan golf sebagai caddy, Ouimet lantas dikenal luas sebagai Bapak golf AS yang menjadi “kiblat” inspirasi banyak orang – tak hanya dari dunia golf.

 

Sejak menjadi caddy, Ouimet banyak belajar tentang golf. Impiannya ingin mengikuti jejak legenda golf Inggris, Harry Vardon yang kelak, dikalahkannya untuk merengkuh titel US Open 1913 – satu-satunya gelar besar yang diraih Ouimet sepanjang kariernya.

 

Ya, sepanjang karier sejatinya bukan karena tak mampu lagi menjuarai gelar bergengsi, namun itu tadi, Ouimet menolak masuk golongan profesional hanya untuk memulai bisnisnya sendiri. Bisnis yang sudah lama jadi paradigma yang ditanamkan sang Ayah sejak kecil, lantaran Ouimet lahir dari keluarga kelas pekerja.

 

Sejak kecil, Ouimet jarang menikmati yang namanya kemewahan. Dari dasar itulah, legenda kelahiran Brookline 1893 lalu itu merasa bertanggung jawab untuk menanggung kehidupan keluarganya kelak sebagai anak laki-laki tertua.

 

Kisah karier Ouimet di dunia golf, dirintis di event amatir AS yang sayangnya, gagal dimenangkan. Namun beberapa pihak dari USGA (badan golf AS) saat itu, sempat terpikat dengan kemampuannya untuk kemudian, mengajak Ouimet turut serta dalam US Open 1913 sebagai perwakilan lokal dengan tiket “wild card”.

 

Tak ada yang memperhitungkannya kala itu, apalagi US Open juga menghadirkan idolanya sendiri, Harry Vardon, serta sejumlah pegolf tenar lainnya macam Ted Ray dan juara bertahan, John McDermott.

 

Namun takdir berkata lain, McDermott malah kandas di pertengahan babak hingga akhirnya, penentuan juara harus ditentukan antara Ouimet dan Vardon. Layaknya di banyak cerita dongeng, Ouimet digambarkan sebagai “David” yang melawan “Goliath” Vardon.

 

Didukung serta Presiden AS saat itu, Woodrow Wilson, Ouimet sempat gugup dan mempengaruhi hasil-hasil di beberapa babak. Tetapi Ouimet sanggup comeback hingga akhirnya, memenangi gelar US Open yang juga menjadi titel besar satu-satunya dalam catatan kariernya. Satu hal lagi yang cukup membuatnya bangga, Vardon pun memberi pujian sportif.

 

Tapi yang menyedihkan, lantaran statusnya yang masih amatir, tak ada sepeser pun uang hadiah juara yang diterimanya. Yang membuat kisahnya kian menimbulkan haru, para penonton pun ramai-ramai mengulurkan sejumlah uang sembari mengusungnya tinggi-tinggi. Ouimet menolak uang itu dan memilih memberikannya pada caddy ciliknya yang berusia 10 tahun, Eddie Lowery – yang lantas meneruskan persahabatan hingga Ouimet tutup usia.

 

Selebihnya, Ouimet tetap menjadikan golf kehidupan keduanya. Dua gelar terakhir yang didapatnya hanya gelar amatir AS di tahun 1914 dan 1931. Status amatir Ouimet itu pun sempat dilucuti USGA lantaran dianggap memanfaatkan nama tenarnya untuk kepentingan bisnis.

 

Tapi kontroversi itu dipulihkan kembali usai Ouimet ikut memasuki kancah Perang Dunia I secara sukarela di tahun 1918. Status Bapak Golf AS pun didapatnya setelah USGA memasukkan namanya ke daftar Hall of Fame Golf di tahun 1974 – tujuh tahun setelah kematiannya.

 

The Country Club Brookline, selalu dianggap tempat yang spesial baginya. Bagaimana tidak, tempat tinggalnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari hole ke-17. Pada 1963 lalu, US Open sempat digelar kembali di Country Club Brookline dan mendedikasikan turnamen itu untuk mengenang 50 tahun kemenangan Ouimet di tempat yang sama.

 

“Buat saya, tempat ini keramat. Rumputnya tumbuh lebih hijau, pohon-pohonnya berkembang lebih baik, bahkan bebatuan di sini menjadi lebih hangat. Kadang, matahari bersinar lebih terang ketimbang di tempat lain yang pernah saya datangi,” ungkap Ouimet pada 1932 silam.

 

Kisah dan kehidupan unik Ouimet yang lahir dari Ayah seorang Prancis-Kanada dan Ibu imigran Irlandia itu, sempat di abadikan dalam sebuah biografi (2002) dan film bertitel “The Greatest Game Ever Played”. Diperankan Shia LaBeouf, kehidupan Ouimet dituangkan lebih lengkap mulai kehidupan pribadinya hingga kemenangan prestisiusnya di ajang US Open 1913.

(raw)