Merindukan Piala Sudirman

|

Hendra Mujiraharja - Okezone

Trofi Piala Sudirman. (Foto: Reuters)

Merindukan Piala Sudirman
PECINTA Bulutangkis sudah merindukan Indonesia untuk mendapatkan gelar Piala Sudirman. Kini, skuad Merah Putih diharapkan bisa membawa pulang trofi yang sudah lama hilang itu.
 
Kejuaraan bulutangkis internasional untuk nomor beregu campuran ini digelar setiap dua tahun sekali. Nama Sudirman diambil dari nama tokoh perbulutangkisan Indonesia, almarhum Dick Sudirman, salah satu pendiri PBSI dan dikenal juga sebagai bapak bulutangkis Indonesia.
 
Piala Sudirman pertama kali digelar pada 24-29 Mei 1989. Pada saat itu, Indonesia berhasil menjadi negara pertama yang menjadi juara setelah menyudahi perlawanan Korea Selatan dengan skor 3-2. Sejak saat itu, Merah Putih tidak mampu lagi merasakan manisnya trofi Piala Sudirman.
 
Setelah itu, Indonesia memang tiga kali secara beruntun menembus babak final (1991. 1993, 1995). Sayang, saat itu Merah Putih harus dua kali mengakui keunggulan Korea Selatan dan Cina.
 
Turnamen terakhir di Piala Sudirman 2011, Taufik Hidayat dkk tidak mampu menembus partai final setelah dikalahkan Denmark dengan skor 1-3 pada babak semifinal. Setelah kegagalan itu dan tidak mampu meraih medali emas di Olimpiade London, bulutangkis Indonesia memang sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
 
Setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir memenangi All-England, PBSI memang sangat mengharapkan Indonesia dapat membuat kejutan dengan membawa pulang trofi Piala Sudirman tahun ini. Peluang Indonesia untuk lolos ke babak semifinal terbuka setelah tergabung dengan India dan Cina di Grup 1A.
 
Cina diyakini akan menjadi lawan paling sulit dihadapai Sony Dwi Kuncoro dkk. Apalagi, Negeri Tirai Bambu itu merupakan juara bertahan di turnamen Piala Sudirman dan akan sulit untuk menyingkirkan mereka. Liliyana pernah menegaskan meraih kemenangan melawan India adalah harga mati untuk lolos.
 
“Menang dari tim India adalah harga mati. Saya rasa Indonesia masih lebih unggul di sektor ganda campuran,” kata Butet, sapaan akrab Liliyana, saat itu.
 
Berikut Skuad Bayangan Indonesia:
Tunggal Putra: Sony Dwi Kuncoro, Tommy Sugiarto, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka
 
Tunggal Putri: Linda Wenifanetri, Aprilia Yuswandari, Adriyanti Firdasari, Bellaetrix Manuputty, Maria Febe Kusumastuti
 
Ganda Putra: Rian Agung Saputro/Angga Pratama, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Muhammad Ulinnuha/Ricky Karandasuwardi
 
Ganda Putri: Nitya Krishinda Maheswari/Anneke Feinya Agustine, Suci Rizky Andini/Della Destiara Haris, Greysia Polii/Meiliana Jauhari (Tiara Rosalia Nuraidah)
 
Ganda Campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Muhammad Rijal/Debby Susanto, Fran Kurniawan Teng/Shendy Puspa Irawati
(hmr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • next on sports

      Indonesia Harus Belajar dari Singapura

      Balap F1 sebenarnya bukan cuma soal adu kencang mobil-mobil berteknologi tinggi, banyak hal baik yang akan diperoleh Indonesia.

    • next on sports

      Fasilitas Lengkap, Pebulutangkis Indonesia Mestinya Lebih Semangat

      Beban dan tekanan tentu ada dalam setiap laga internasional, tapi terbiasa menghadapi tekanan justru menjadi kekuatan dalam olahraga.

    • next on sports

      Pembawa Obor Olimpiade Jadi Pekerja Serabutan

      Peraih medali emas SEA Games dan pembawa obor Olimpiade 1996 di Atlanta itu tidak memiliki pekerjaan tetap.

    • next on sports

      Tak Perlu Mencari Kambing Hitam

      Indonesia harus puas pulang dengan medali perunggu di kejuaraan bergengsi BWF World Championship 2014 di Kopenhagen-Denmark, lewat sektor tunggal putra, Tommy Sugiarto. Menilik hasil yang diraih para putra-putri Indonesia di negeri Skandinavia, ada banyak evaluasi yang harus dilakukan.

    • next on sports

      Manis-Pahit Perjuangan Pebulutangkis di Negeri Kincir Angin

      Kiprah Belanda di dunia sepakbola tak bisa dipandang sebelah mata. Namun, terdapat olahraga lain yang tampaknya kini mulai digemari. Bulutangkis! Sejumlah kalangan mulai memutuskan untuk menjadi atlet di negara yang populer akan sepakbola, salah satunya ialah Jorrit de Ruiter.

    • next on sports

      Lesu di Kandang Sendiri, PBSI Wajib Lakukan Evaluasi

      PERUBAHAN dan evaluasi jelas menjadi agenda yang paling mendesak jika ingin melihat olahraga yang kerap kali mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional kembali berjaya. Setelah kembali nihil prestasi ditunjukan oleh atlet-atlet bulutangkis andalan Indonesia kala mereka ambil bagian di Indonesia Open 2014.

    • next on sports

      Federasi Prancis Tutup Mata soal Bulutangkis

      "Federasi Bulutangkis Prancis sama sekali tidak membantu saya. Saya harus berjuang sendiri dalam perjalanan karier ini. Dana yang saya dapatkan (untuk mengikuti turnamen) merupakan uang dari pekerjaan saya dan klub saya di Paris yang juga turut membantu," kata Arnaud Génin.

    • next on sports

      Pilih Badminton Gara-Gara Gagal di Sepakbola

      "Saya mulai bermain badminton karena kecewa di sepakbola. Saya sempat bermain sepakbola di sebuah klub di kota saya. Namun, saya mengalami masalah dengan pelatih dan sejak saat itulah saya mulai menggeluti olahraga lain," kata Filipe Toledo.

    • next on sports

      Pemerataan Kekuatan & Terbukanya Pintu Sejarah

      Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Betapapun hebatnya dominasi adidaya dalam bulutangkis dunia, akhirnya runtuh juga. Negara-negara super-power macam China, Indonesia, Korea, Denmark dan Malaysia tak lagi serta-merta bisa menepuk dada.

    • next on sports

      Ketika Lorenzo Senasib Vettel

      Sama-sama juara bertahan di MotoGP dan Formula One (F1), tapi terpuruk di awal musim. Begitu kira-kira persamaan nasib Jorge Lorenzo dan Sebastian Vettel. Ironisnya, kedua pembalap belum pernah merasakan yang namanya kemenangan.

    Baca Juga

    Eks Pelatih Gay Dihukum Delapan Tahun